DAYA TARIK WISATA KABUPATEN MANGGARAI BARAT
(FLORES-NTT)
A.
WAE REBO
Letaknya tak terlihat dari keramaian dengan pegunungan hujan tropis
dan lembah hijau yang mendekap hangat dusun ini. Adalah Wae Rebo,
sebuah dusun yang menjadi satu-satunya tempat mempertahankan sisa arsitektur
adat budaya Manggarai yang semakin hari semakin terancam ditinggalkan
pengikutnya. Mengapa berbentuk kerucut dan dari mana asal muasalnya masih
sebuah tanda tanya besar, kecuali secuil informasi dari tradisi penuturan
masyarakatnya sendiri yang merupakan generasi ke-18.
Wae Rebo berada
di Kabupaten Manggarai, tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat, Desa Satar
Lenda. Di sini, satu desa dengan desa yang lainnya jauh terpisah lembah
yang menganga di antara bukit-bukit yang berkerudung kabut di ujung pohonnya.
Dusun Wae Rebo begitu terpencil sehingga warga desa di satu kecamatan masih
banyak yang tak mengenal keberadaan dusun ini. Seperti Kampung Denge, desa
terdekat ke Wae Rebo belum seutuhnya menjadi desa tetangga karena belum semua
pernah ke Wae Rebo. Sementara warga Belanda, Perancis, Jerman, hingga Amerika
dan beberapa negara Asia sudah sangat terperangah keindahan kampung yang
rumahnya seperti payung berbahan daun lontar atau rumbia yang disebut mbaru
niang.
Mbaru niang sudah punah sebelum memasuki awal tahun 70-an saat pemerintah
mengkampanyekan perpindahan masyarakat pegunungan ke dataran rendah. Seorang
antropolog, Catherine Allerton mengenang pembicaraannya dengan tu’a golo,
pemimpin politik dan kepala kampung, juga tu’a gendang, kepala upacara
adat. Warga Wae Rebo saat itu tak memutuskan meninggalkan dusunnya. Sudah
generasi ke-18 hingga kini Wae Rebo bertahan dari seorang penghuni pertama dan
pendiri Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, Empo Maro.
Leluhur Wae
Rebo, termasuk Empo Maro, mewariskan 7 buah rumah kerucut yang sangat menawan
meskipun telah dimakan usia dan beberapa di antaranya telah rubuh dan belum
dibina kembali. Sebuah yayasan dari Jakarta diberitakan telah memberikan
bantuan pertanda kasih sayangnya pada keaslian Wae Rebo dengan mendirikan satu
rumah yang sama bentuknya dan dinamakan Tirto Gena Ndorom, dimana Tirto adalah
secuil kata dari nama yayasan donatur tadi.
Rumah yang
disebut mbaru niang terdiri dari 5 tingkat yang semua ditutupi atap
dan menjadi sebuah kerucut. Di tingkat pertama, lutur, atau tenda
adalah tempat tinggal penghuninya. Di tingkat kedua, lobo,
atau loteng ialah tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga
ialah lentar yang berfungsi menyimpan benih jagung dan tanaman untuk
bercocok tanam lainnya. Tingkat keempat ialah lempa rae,
yaitu tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang akan sangat berguna
saat panen dirasa kurang berhasil. Sedangkan tingkat kelima, hekang
kode, yaitu tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.
Di Wae Rebo,
tidak seperti di dusun tradisional lain yang terkadang memiliki berbagai klan.
Di sini hanya terdapat satu klan atau marga saja. Klan tersebut memiliki
gendang pusaka di rumah gendang di tiang utamanya. Mereka memiliki pantangan
untuk tidak makan satu binatang, yaitu musang. Dari penuturan tetua, leluhur
mereka datang ke Wae Rebo dengan bertemankan seekor musang sehingga dipercayai
bahwa musang adalah bagian dari leluhur mereka.
Berkembangnya
penduduk Wae Rebo membuat keberadaan sebuah desa baru dirasakan harus dibina.
Sebagian masyarakat Wae Rebo dibagi tempatnya dengan desa baru yang disebut
Kombo. Tak banyak wisatawan mengetahuinya, walau Kombo dan Wae Rebo adalah
masyarakat yang sama. Akan tetapi, karena lingkungannya dipertahankan sesuai
aslinya, Wae Rebo seolah permata di atas lumpur. Kombo dipandang berbeda karena
tidak berasal dari leluhur yang merintis keberadaan kampung itu.
Warga paruh
baya dan anak-anak sekolah tinggal di Kombo, sedangkan orang tua dari para pria
muda serta belasan tahun yang menginjak dewasa tinggal di Wae Rebo. Mereka
semua memiliki kepercayaan yang sama. Katolik adalah agama yang dipeluk
masyarakatnya, walau kepercayaan animisme masih kental terasa dalam kehidupan
mereka.
Mereka yakin
bahwa tanah atau hutan memiliki emosi dan perasaan. Sebelum bercocok tanam dan
mencangkulnya, sebuah ritual harus dilakukan untuk meminta izin pada penunggunya.
Bila tak berizin maka tanah akan menjerit dan merintih. Bercocok tanam pun
harus rutin agar tanah tidak ‘menangis’ sedih. Warga Wae Rebo memandang tanah
sebagai bagian dari mereka dan seperti manusia yang harus dihormati.
Di tengah dusun
terdapat panggung batu yang dikisahkan telah dibina atas bantuan penunggu hutan
yang berupa manusia gagah menawan yang mampu mengangkat batu besar dengan satu
tangan. Masing-masing tangan dan kaki penunggu hutan ini memiliki jari
berjumlah enam. Rambutnya dikisahkan sangat panjang dan parasnya cantik
rupawan. Setelah panggung ini selesai, tarian caci digelar dan juga
tabuhan gendang dilaksanakan (mbata).
Dari Ruteng,
perjalanan dengan kendaraan selama 4 jam yang berkelok sehingga penumpang tak
henti bergoyang. Sampailah di sebuah desa pesisir bernama Dintor. Jalan terus
dilanjutkan menuju tanjakan ke pedalaman pulau menempuh pematang sawah dan
jalan setapak di Sebu sebelum sampai di Denge. Dari Denge langkah terus
dihentakkan melalui hutan kecil, melalui Sungai Wae Lomba. Setelah mengatur
kerja paru-paru di sepanjang jalan setapak, dari Ponto Nao, terlihat pusat Wae
Rebo, sebuah dusun yang mengepul asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul
di sebuah lapang hijau. Itulah sisa-sia mbaru niang yang hampir punah.
Perjalanan
panjang menuju dusun ini membuat masyarakatnya sedikit terasing dari peradaban,
terutama pendidikan dan kesehatan. Seorang anak bahkan dewasa dirata-ratakan
telah berjalan kaki selama 4 jam sekali keluar dari dusunnya dan kembali
membawa sesuatu seberat 15 kilogram untuk dijadikan bahan makanan cadangan
karena terbatas sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan. Dalam satu tahun,
diperhitungkan seorang anak akan membawa barang dengan total berat hingga 2
ton.
Tiba di dusun
ini, sambutan hangat adalah sebuah keniscayaan. Ubi, talas, dan jagung akan
disajikan termasuk daging ayam. Menginap di sana seperti sebuah mimpi
berhari-hari. Ada kesan khusus dan tak akan tergantikan oleh perjalanan apapun,
karena memang hanya satu kali pengalaman ini terjadi di Wae Rebo. Di sini semua
berawal, dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo
yang disebutkan dalam bahasa daerah sebagai Neka hemong kuni agu kalo.
[Diramu dengan bersumber dari catatan
perjalanan Leonardus Nyoman, Martinus Anggo, dan hasil penelitian antropolog,
Catherine Allerton.]
B.
GUA
BATU CERMIN
Gua Batu Cermin
adalah pesona sekaligus misteri di Labuan Bajo, Flores. Di dalam gua ini
terdapat batu karang, batu stalaktit berkilau, dan fosil penyu yang berada di
dinding guanya.
Flores tidak hanya soal pantai, laut, dan komodo saja. Terletak di Nusa
Tenggara Timur, Flores memiliki banyak pesona yang harus Anda jelajahi, salah
satunya adalah Gua Batu Cermin. detikTravel menelusuri dan melihat pesona gua
ini dari dekat beberapa waktu lalu. Gua Batu Cermin berada di Kampung Wae
Kesambi, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT.
Letaknya 2,5 km dari Labuan Bajo. Gua ini menjadi destinasi yang wajib
dikunjungi saat traveling ke Labuan Bajo.
Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 10 ribu, Anda akan berjalan selama 15
menit untuk menuju mulut gua. Hutan yang rindang dengan bambu-bambu melengkung
menjadi pemandangan khas di sana. Perjalanan tidak berhenti di situ. Anda harus
menapaki tangga di dalam gua untuk menuju dan melihat batu cermin tersebut.
Setelah itu, mulut gua dengan tinggi setengah meter akan menjadi jalan masuk.
Anda harus menunduk dan menggunakan senter untuk masuk ke dalamnya. Hati-hati
kepala Anda!
Di sinilah keajaiban Gua Batu Cermin dapat Anda lihat. Stalaktit dan stalagmit
di dalam gua terlihat jelas berkilauan saat disinari cahaya senter. kilauan ini
berasal dari kandungan garam yang ada di dalam airnya yang mengalir kala hujan
turun. Batu-batu berkilauan ini akan membuat siapa pun terkagum-kagum. Tak
hanya memandangi, Anda juga bisa mengabadikan pesonanya di dalam kamera.
Setelah berjalan jongkok, sampailah Anda di perut gua. Di sini ada keajaiaban
yang sulit diterima akal sehat. Di atap guanya, terdapat fosil penyu yang
berumur ribuan tahun. Fosil tersebut akan terlihat jelas saat Anda menyinarinya
dengan senter. Sebabnya, suasana di dalam gua sangatlah gelap.
Tak hanya itu,
misteri lainnya di dalam gua adalah batu-batu karang yang menjadi salah satu
gugusan batu di dalam gua. Batu-batu karang tersebut memiliki kandungan garam
yang tinggi. Batu-batu karang dan penyu yang seharusnya berada di bawah air
laut, mengapa bisa berada di dalam gua di atas daratan?
Hal ini masih menjadi tanda tanya besar bagi peneliti atau pun masyarakat
setempat. Batu Cermin juga memiliki anomali yang cukup unik. Batu yang ada di
sini masih banyak yang mengandung garam. Jika Anda cukup tertantang dan
memiliki rasa penasaran yang berlebih, bisa mencoba merasakan batu-batu di
sini.
Tapi, tidak semua batu akan terasa asin. Hanya batu yang berkilau saja yang
asin. Karena kilau itu berasal dari garam yang dikandung batu tersebut. Hal
terakhir yang menjadi keajaiban gua ini adalah 'cermin'. Melalui celah selebar
1 meter dari tempat melihat fosil penyu, Anda dapat melihat 'cermin' tersebut.
Di atas gua, terdapat lubang dengan diameter sekitar 2 meter yang membawa sinar
matahari, lubang yang sangat terang. Di sekitar itu, terdapat celah sempit
selebar 3/4 meter dengan dasar tanah keras dan beberapa batuan tumpul. Celah
tersebut adalah cermin yang berisikan air yang memantulkan cahaya matahari.
Akan tetapi, perlahan air menyurut dan lama-kelamaan hilang, terutama saat
musim kemarau. "Cermin" tersebut masih bisa dilihat saat sedang musim
hujan. Itu pun harus menunggu hujan beberapa kali baru air bisa memenuhi celah
tersebut.
Lebih dari itu, Gua Batu Cermin adalah kecantikan, keajaiban, sekaligus misteri
dari Flores. Keindahan staklatit dan stalagmit di dalam guanya berbanding lurus
dengan fosil penyu dan batu karangnya.
C.
PULAU
KOMODO
Di
Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga
Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan
pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai
sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar
Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional
Komodo.
Selain
komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu
sepang
yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon
nitak ini atau sterculia
oblongata
di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang
polong.
Sejarah
Pada
tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi
selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita
ini berawal dari Letnan Steyn
van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang
adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh
seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.
D.
PULAU RINCA
E.
PULAU
BIDADARI
Gugusan
pulau-pulau kecil yang terletak di sekitar Labuan Bajo saat ini memiliki
kepopuleran yang kian meningkat seiring dikenalnya P. Komodo dan P. Rinca.
Pulau-pulau yang dianggap memiliki komponen menarik dan juga layak untuk
dijadikan tujuan wisata banyak yang dibeli atau disewakan selama puluhan tahun
kepada orang luar negri yang justru menyadari keelokan pulau-pulau tersebut
sebelum orang Indonesia sendiri. Salah satu diantaranya adalah pulau yang
dikenal dengan Pulau Bidadari yang memiliki luas sekitar 15 hektar.
Perjalanan
menuju pulau ini bisa ditempu selama kurang lebih 15-20 menit dari Labuan Bajo
dengan kapal kayu, atau bisa juga dari layanan antar jemput yang bisa
disediakan pihak resort di sana saat melakukan reservasi. Pulau Bidadari
sendiri memiliki sejarah yang cukup berliku mengenai masalah kepemilikannya
yang konon sudah resmi dimiliki oleh warga Inggris bernama Ernest Lewan yang
sudah membelinya dari H. Mahmud yang merupakan keturunan dari penguasa Bajo,
namun ada yang mengatakan bahwa Ernest hanya diberikan izin untuk menggunakan
haknya di pulau itu selama 30 tahun.
Sejak
resmi dimiliki Ernest, nelayan dan penduduk dari pulau-pulau terdekat dilarang
untuk berada di P. Bidadari ini karena dikhawatirkan merusak laut di sekitar
pulau dengan perilaku mereka saat menangkap ikan yang berdampak merusak terumbu
karang juga. Akhirnya setelah resmi memiliki hak guna pulau pada tahun 2000,
Ernest membangun resort di pulau ini dan juga fasilitas diving yang berstandar
internasional karena target market utamanya adalah wisatawan asing.
Nama
bidadari sendiri terbentuk karena banyak sekali wisatawan luar negri yang suka
telanjang saat berjemur di sini yang mayoritas wanita dan cantik-cantik
sehingga penduduk sekitar Bajo yang mendengar rumor menganggap mereka yang ada
di pulau tersebut seperti layaknya bidadari.
Keindahan
pulau ini yang membuat Ernest jatuh cinta tentu bisa sangat dimengerti karena
hamparan pasir putih yang halus dengan berhiaskan lautan yang biru jernih dan
juga suasananya yang tenang pasti memikat siapapun yang datang, ditambah dengan
keindahan bawah lautnya lah yang menjadi poin spesial dari pulau ini. Jumlah
kamar yang terdapat di Pulau Bidadari ini hanya sebanyak 10 kamar berbentuk
cottage dengan fasilitas yang bisa dikategorikan berbintang.
Jika
dibandingkan dengan pulau-pulau yang memiliki bungalow juga, P. Bidadari ini
termasuk digolongkan kelas atas karena rate harga kamarnya yang menggunakan
Euro dan juga tentunya lebih mahal dari resort di pulau-pulau lainnya. Maklum
saja karena target utama yang merupakan warga asing yang suka diving harga
kamarnya pun termasuk biaya antar jemput dari bandara sampai ke pulau.
Fasilitas lain yang dimiliki resort di P. Bidadari adalah tersedianya air panas
untuk mandi, restoran, mini bar dengan pilihan berbagai macam wine dan minuman
lainnya, teras pribadi untuk setiap kamar.
Selain
itu berbagai layanan juga tersedia di pulau ini layaknya seperti hotel yang ada
di wilayah perkotaan; seperti penyediaan layanan dokter yang siap panggil,
laundry dan setrika, security guard, pemesanan mobil saat di Labuan Bajo, dan
lain-lain. Karena letaknya yang dekat dari Labuan Bajo tentu jarak tidak
terlalu menjadi masalah dalam memaksimalkan pelayanan untuk para tamu.
P.
Bidadari memang dikenal sebagai salah satu tempat di sekitar Bajo yang memiliki
spot diving terbaik dan diakui oleh internasional. Tak heran bila banyak divers
internasional yang singgah ke pulau ini untuk menikmati paket diving
berhari-harinya. Di sini tersedia paket untuk diving course yang pemula maupun
yang sudah professional, dengan tarif 329-695 Euro minimal 4 hari – 10 hari
untuk menjelajahi titik-titik diving terbaik di Laut Flores. Namun pulau ini
juga tidak menutup diri dari wisatawan lokal yang juga memiliki ketertarikan
pada olahraga diving sehingga rupiah juga tentunya berlaku.
Selain
diving Anda juga bisa menikmati snorkeling dan juga scuba diving yang diawasi
oleh instruktur berstandar internasional yang tersedia lengkap segala peralatan
serta pelayanannya di snorkeling and diving centre di pulau ini. Akan tetapi
sebagai pulau yang khusus disegmentasikan untuk para divers tentunya yang akan
diutamakan untuk menginap adalah para divers yang ingin menjelajahi keindahan
bawah laut di sekitar Taman Nasional Komodo.
Sampai
saat ini diketahui sudah ribuan wisatawan yang singgah di pulau ini dan
mayoritas adalah wisatawan luar negri yang ingin merasakan keindahan bawah laut
Flores, tentunya reservasi untuk menginap di pulau ini pun berebut sebab jumlah
kamar yang hanya 10 namun permintaan wisatawan tinggi dan juga wisatawan yang
menginap di sini rata-rata minimal selama 4 hari. Sebaiknya Anda melakukan reservasi
yang tidak mendadak jika ingin mengunjungi P. Bidadari dan juga perhatikan
musim-musim yang ramai wisatawan di sini yaitu 1 Juli – 15 September dan 1
Desember – 15 Januari.
Pada saat tersebut
biaya kamar dan segala pelayanan berbayar akan dinaikan sebesar 15-18 Euro.
Pilihan tanggal saat low season yang berlangsung sekitar 15 Januari- 1 Maret
dan 16 September-30 November lebih membuka peluang Anda untuk mudah mendapatkan
kamar dan menikmati diving course di sini. Jadi siapkan diri Anda untuk menyelami
keindahan Flores di Pulau Bidadari.
F.
PULAU
KANAWA
Terletak sekitar 15 kilometer dari Labuan Bajo,
Pulau Kanawa menyendiri dalam luasnya lautan di sekeliling Taman Nasional
Komodo sehingga luas pulaunya yang 32 hektar seperti tak begitu berarti. Akan
tetapi, tetap saja bukit batu yang ditumbuhi belukar dan rumput kering di musim
kemarau ini bagaikan dialek Italia yang menggoda. Birunya laut yang dibatasi
warna hijau kebiruan di bibir pantainya menyeret rasa penasaran seolah
gravitasi bumi. Pulau Kanawa awalnya dibina oleh seorang warga Labuan Bajo,
pulau ini diserahkan pengelolaannya pada orang Italia yang mengembangkan 14
bungalow di kaki bukit batu yang menerawang ke arah pantai. Sebuah dermaga kayu
cukup untuk melabuhkan beberapa perahu kecil menjulurkan sambutannya hingga
tepi karang dan tebing bawah laut. Biru bercampur hijau tepat mengulas kaki
gazebo di ujung dermaga. Tak salah lagi, terumbu karang seluas areal yang
melingkari pulau itu tumbuh subur, berbinar mengundang mereka yang mendekat.
Setelah
menyinggahi Pulau Rinca dan Komodo yang membuka cakrawala pengetahuan fauna
Indonesia, setengah lingkaran jam tak perlu dihabiskan terlalu cepat hingga
terbenam Matahari di Labuan Bajo. Pulau Kanawa dengan kemewahan langit, pantai,
dan terumbu karangnya adalah perhiasan sebelum pergi pulang. Bersoleklah dengan
pengalaman satu lagi di jernihnya air dan warna-warni ikan yang bermain di
antara bunga laut, terumbu karang, dan bukit pasir di bawah laut. Di Pulau
Kanawa saat menjelang sore, air lautnya surut dimana Anda dapat mengambil
bintang laut dan kepiting kecil yang ada di pesisir pantai. Kejadian ini adalah
hal rutin terjadi saat air laut surut.
Bila
jatuh hati pada pandangan pertama saat menatap Kanawa, singgahlah untuk
menanyakan kemungkinan bermalam di salah
satu bungalownya karena itu adalah ide yang paling baik. Dibangun di antara
bibir pantai yang jernih dan bukit menjulang, bungalow tersebut dilengkapi
tempat tidur nyaman, berkelambu putih dan tempat tidur ayunan yang diapit dua
pohon rindang, siap mengakomodir keinginan Anda untuk berlabuh.
Kursi
beanbag disusun seperti bioskop di pantai, lengkap dengan peneduh alami
menghadap langit menguning saat sunset. Beach café bernama Starfish dan satu
lagi di bibir pantai bernama KB’s bar memutar lagu penuh semangat, mengingatkan
setiap pengunjung untuk tetap ceria. Perahu dari Labuan Bajo selalu datang pada
jam yang telah ditetapkan dan juga berangkat dari pulau ini pada jadwal yang
dipatuhi. Pengunjung yang bermalam di sini tak perlu lagi membayar ongkos perahu
yang melaut 45 menit dari Kanawa ke Labuan Bajo karena telah termasuk tarif
bermalam.
Penyelamkah
Anda? Bergegaslah untuk menemui manta ray, hiu paus, dan mola-mola di antara
jadwal pertemuan lain dengan parrot fish yang memiliki bejolan besar di kepalanya.
Kuda laut pigmi dan beraneka ragam nudibranch adalah hal lain yang mudah
ditemukan di sini beserta penyelam lainnya yang selalu bertukar pengalaman
sambil menyeruput minuman dingin di Starfish café.
G. PULAU SEBAYUR
Pulau
Sebayur yang memang sudah mengkategorikan resort di pulaunya sebagai Dive Club
yang sudah berlisensi PADI. Satu-satunya resort yang terdapat di Pulau Sebayur
ini bernama Komodo Resort Dive Clubs yang dibangun oleh orang Italia. Terletak
dekat dengan Pulau Rinca yang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit menuju
sana, sedangkan dari Labuan Bajo perjalanan dengan kapal membutuhkan waktu
sekitar 1,5 jam.
Selain
di Pulau Bidadari, Pulau Sebayur juga menawarkan pelayanan maksimal serta
fasilitas yang lengkap untuk para divers. Target pengunjung yang menginap di
sini adalah siapa yang mengambil paket menyelam di Dive Clubs Sebayur ini. Jika
dilihat dari panorama sekitar pulau, memang masih kalah dibandingkan dengan
panorama yang dimiliki resort-resort di pulau lain karena keadaan pulau terbilang
cukup gersang dan kurang asri pemandangan bukitnya. Akan tetapi sebenarnya
memang bukan panorama atas pulau yang diutamakan, sebagai pusat singgah para
penyelam lokasi Sebayur sendiri terletak sangat dekat dengan beberapa titik
diving yang terkenal indah di sekitar Laut Flores. Letak di mana ada Batu
Bolong, Castle Rock, Crystal Rocks, dan lain-lain jaraknya hanya beberapa menit
dari pulau yang membuat waktu perjalanan menuju spot dive lebih cepat sehingga
waktu diving akan jauh lebih efektif dan tidak terbuang karena lamanya
perjalanan.
Arsitektur
yang tersaji untuk penginapan di Komodo Resort merupakan percampuran modern
barat dan tradisional NTT dilihat dari desain exterior kamar yang berbentuk
cottage ala rumah tradisional NTT namun dikemas secara modern. Interior
kamarnya pun sangat modern mirip seperti hotel-hotel di kota yang berbintang.
Jumlah kamarnya pun kurang lebih 10 dengan ada rencana penambahan sebanyak 4
buah lagi karena meningkatnya permintaan konsumen.
Walaupun
gersang, pulau ini juga tetap terlihat sangat alami dari kejernihan air lautnya
yang benar-benar seperti transparan karena mudah sekali melihat hewan
berlalu-lalang didampingi dengan pasir pantainya yang putih dan halus. Untuk
menginap di Komodo Resort ini, wisatawan harus mengambil paket sekaligus dengan
divingnya. Bisa dikatakan, ambil paket diving bonus akomodasi selama minimal 3
malam.
Karena
target marketnya yang merupaka para divers, jarang sekali memang wisatawan umum
khususnya domestik yang singgah ke pulau ini. Apalagi memang sebagian besar
divers yang datang merupakan warga asing yang jauh lebih memiliki ketertarikan
akan olahraga ini dibanding dengan orang Indonesia sendiri yang masih baru tahu
tentang olahraga diving ini. Untuk harga paket diving sekaligus resort dikenakan
biaya 130-165 Euro per malamnya dengan ketentuan minimal menginap selama 3
malam.
Secara
otomatis kita akan mendapatkan makan, akomodasilain (boat), full peralatan
diving dan jatah 2x diving per harinya. Saat peak season Desember-Januari dan
Juli-September harga akan dinaikkan sebesar 20 Euro/malamnya. Untuk mengikuti
program divingnya saja di sini biasanya bertarif sekitar rata-rata 45-55 Euro/
hari nya untuk 2 spot tidak termasuk biaya sewa untuk peralatan yang biasanya
tarif sewanya berkisar 3-8 Euro/ item atau bila menyewa full peralatannya biaya
lebih murah yaitu sekitar 25 Euro.
Bila
Anda merasa masih ragu untuk terjun sendiri menyelam disediakan juga jasa
private guide selama menyelam yang bertarif 40 Euro. Belum lagi ada lagi
permintaan untuk diving di spot-spot indah di sekitar Taman Nasional Komodo
seperti Batu Bolong, dll yang tarifnya 2x lipat dari biaya diving di sekitaran
P. Sebayur yaitu berkisar mulai dari 90-150 Euro (sudah termasuk full service transportasi,
peralatan, konsumsi).
Melihat
beragamnya tarif yang ditawarkan dengan berbagai macam pelayanan diving maka
sebagian besar tamu yang datang ke Sebayur Island lebih memilih paket resort
dan divingnya yang jatuhnya lebih murah dan juga lebih puas, sebab banyak di
antara wisatawan yang tinggal di Sebayur lebih dari 2 minggu karena sudah jatuh
cinta untuk mengeksplor bawah laut Taman Nasional Komodo.
Fasilitas
serta pelayanan lain yang ada di Komodo Resort antara lain restoran makanan
yang menyajikan masakan Indonesia atau Italia, rental peralatan snorkeling dan
canoe, layanan antar jemput bagi para tamu dari dan menuju P. Sebayur – Labuan
Bajo. Melihat kelengkapan layanan untuk para penyelam yang ingin mengeksplor
keindahan bawah laut Taman Nasional Komodo, pastinya Pulau Sebayur menjadi
pilihan utama bagi mereka untuk tinggal.
Datanglah
ke Pulau Sebayur yang dekat dengan lokasi-lokasi selam terbaik seantero P.
Komodo. Untuk informasi lebih lanjut serta reservasi klik www.komodoresort.com
atau menghubungi kantor Labuan Bajo nya di +6238542095. Jangan lupa untuk
reservasi dari jauh-jauh hari saat menjelang peak season agar tidak kehabisan
kamar.
H. CUNCA WULANG
Mungkin
belum banyak yang populer juga dengan nama Hutan Mbeiling, khususnya di
telingan wisatawan luar Flores. Hutan Mbeiling sendiri merupakan salah satu
kawasan hijau berbentuk hutan yang terdekat dari Labuan Bajo dan dikategorikan
sebagai hutan wisata karena di dalamnya menyimpan banyak potensi wisata. Salah
satunya adalah keberadaan air terjun nan unik yang dinamakan Cunca Wulang, bila
diartikan cunca adalah air terjun dan Wulang adalah Bulan, maksudnya air terjun
ini jika dilihat dari atas seperti jatuh dari bulan. Sebenarnya di kawasan
Hutan Mbeiling ini terdapat dua lagi air terjun yang tentunya memiliki keunikan
masing-masing yaitu Cunca Rami dan juga Cunca Lolos.
Untuk
menuju kawasan tempat di mana Cunca Wulang berada, kita harus menempuh
perjalanan sejauh kurang lebih 30 KM dari kawasan pelabuhan Labuan Bajo selama
kurang lebih 1 jam dengan motor atau mobil. Jasa sewa motor dan mobil mudah
ditemui di kawasan penginapan wisatawan yang ada di jalan sepanjang pelabuhan
Labuan Bajo. Untuk mobil plus supir dan bensin harganya sekitar 500 ribu/ hari
sedangkan motor sekitar 75 ribu/ hari. Medan menuju wilayah Hutan Mbeiling
terbilang bagus yaitu aspal halus sehingga mudah dilewati, selain itu jalurnya
juga tidak terpencil karena jalan yang dilewati adalah jalan provinsi yang
merupakan jalan utama.
Cunca
Wulang sendiri berada di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut sehingga
udara di sekitar pasti lebih terasa sejuk. Sesampainya di gerbang menuju
waterfall tepatnya di desa Wersawe, perjalanan harus dilanjutkan dengan
berjalan kaki atau tracking menelusuri hutan dengan bantuan jasa guide dari
penduduk lokal dengan tarif sebesar 50 ribu seharinya. Perjalanan dilanjutkan
menuju Cunca Wulang sejauh kurang lebih 1-2 km yang ditempuh selama 1 jam
dengan medan menelusuri semak-semak setinggi betis lalu disuguhkan dengan
pemandangan sawah yang hijau, naik turun tanjakan dan akhirnya sampailah ke
tepian Cunca Wulang.
Sekejap
kawasan Cunca Wulang sama dengan Green Canyon yang ada di Jawa Barat,
karakteristik aliran sungainya yang ada di antara tebing bebatuan besar.
Mungkin kita bingung dimana air terjunnya, tenang sewaktu Anda sampai gemuruh
suara air terjun akan memandu Anda di mana letak air terjun tersebut yang ada
di atas batu-batu dan datang dari sela-sela batuan.
Melihat
aliran yang menyerupai seperti sungai tentu kedalamannya juga tidak terlalu
cetek, jadi cocok digunakan untuk berenang bukan hanya sekedar berendam. Airnya
yang dingin dan jernih akan menyegarkan tubuh Anda yang lelah setelah tracking.
Akan tetapi di beberapa titik ada bagian yang cukup dalam sehingga petunjuk
dari guide sangatlah dibutuhkan untuk menentukan lokasi yang tepat untuk
berenang. Bila ingin melihat debit air terjun yang deras dan bergelimpahan
datanglah ke Cunca Wulang saat musim hujan, tapi aliran sungainya tidak seindah
biasanya yang berwarna hijau sebab pengaruh dari air hujan yang cenderung
keruh.
Bila
datang saat musim kemarau, kemungkinan untuk melihat air terjun memang sedikit
karena tidak banyak air yang jatuh, akan tetapi pemandangan yang disajikan
pasti lebih indah di mana aliran sungainya berwarna hijau mungkin menyerupai
yang ada di Green Canyon dengan kedalaman yang juga aman. Semua tergantung
selera Anda lebih mempertimbangkan tampilan air terjun atau pemandangan.
Batu-batuan
yang mengapit sungai aliran air terjun aman untuk dipanjat sebab tidak tajam
sisinya, sehingga banyak sekali wisatawan yang merasakan sensasi untuk loncat
dari atas batu hingga yang dari ketinggian 6 meter ke bawah sungai. Untuk
masalah loncat terutama dari titik yang tinggi tentunya harus dikonsultasikan
kepada guide sebab saat musim kemarau air cenderung sedikit yang mengakibatkan
nantinya bahaya bagi wisatawan sebab akan membentur dasar sungai.
Selain
melihat penampakan Cunca Wulang dari bawah (aliran sungainya) kita juga bisa
melanjutkan untuk tracking ke atas air terjun yang indah sekali dilihat pola
batuannya dari atas. Sekitar 30 menit Anda akan naik ke atas dan bersantai
sambil menikmati udara sekaligus mengeringkan pakaian setelah berenang. Karena objek
wisata ini belum resmi dimanfaatkan maka tidak akan ditemui penjual-penjual
makanan dan minuman di sekitar lokasi sehingga sangat diharuskan untuk Anda
membawa perbekalan sendiri terutama air minum sebab tracking cukup melelahkan.
Bila
Anda beruntung saat tracking menuju Cunca Wulang yang melewati pemukiman warga,
Anda bisa bercengkrama dengan mereka yang ramah dan bisa menyuguhkan minuman
karena dianggap sebagai tamu. Peran local guide sangat penting keberadaannya
jadi jangan kesampingkan tawaran penduduk sana yang menawarkan menjadi guide,
apalagi harga yang mereka tawarkan juga tidak mahal.
Alam
Indonesia memang selalu menawarkan kejutan dan keindahan yang tidak disangka
manusia. Walau sudah kaya dengan keindahan lautnya Labuan Bajo ternyata masih
menyimpan potensi wisata air terjun yang mempesona wisatawan dengan
keunikannya. Masyarakat sekitar juga saat ini sudah mulai menyadari potensi
yang dimiliki lingkungannya. Mereka sadar untuk turut serta berperan dalam
menjaga dan mengenalkan tempat wisata yang ada sebagai bekal masa depan untuk
mereka juga dalam menambah pendapatan. Jangan ragu untuk sekalian mengunjungi
Cunca Wulang yang tidak jauh dari kawasan Anda menginap di Labuan Bajo. Dengan
budget sedikit, pengalaman dan pemandangan indah yang tak tergantikan akan Anda
dapatkan.
I.
CUNCA
RAMI
Tak
banyak yang menyadari bahwa ternyata Labuan Bajo juga menyimpan kekayaan alam
khas pegunungan yang juga tak kalah indah dari kekayaan lautnya. Sebagai kota
pelabuhan dan juga pusat singgahnya wisatawan yang terletak di antara laut dan
juga perbukitan, tentunya tidak diperlukan perjalanan yang jauh untuk menuju
tempat wisata alam khas dataran tinggi yang ada di sekitar Labuan Bajo.
Salah
satu diantaranya adalah Cunca Rami yang menyimpan keindahan dan juga ternyata
menjadi salah satu sumber amata air tawar bagi penduduk Labuan Bajo yang ada di
sekitar pelabuhan. Cunca Rami yang berasal dari bahasa Flores memiliki arti air
terjun di hutan. Air terjun ini terletak sekitar 20-30 km dari pelabuhan Labuan
Bajo. Untuk menuju kawasan ini, diperlukan waktu sekitar 1 jam dengan
menggunakan motor ataupun mobil menuju Hutan Mbeiling di Kampung Roe, Labuan
Bajo. Medan perjalanan dari Labuan Bajo ke Roe sendiri sudah bagus yaitu
jalanan aspal halus sehingga tidak menyulitkan wisatawan.
Di
kawasan sepanjang jalan penginapan dan pelabuhan Labuan Bajo terdapat banyak
sekali gerai yang menawarkan penyewaan motor dan juga mobil. Untuk motor tarif
per harinya adalah 75 ribu rupiah atau 15 ribu rupiah /jam serta untuk mobil
tarifnya mulai dari 500 ribu rupiah/ hari untuk mobil dengan standart kijang
berkapasitas 6-7 orang. Semuanya tergantung pertimbangan Anda dari masalah
jumlah rombongan dan juga penghematan budget.
Hutan
Mbeiling merupakan satu-satunya kawasan hijau perbukitan yang dekat dari Labuan
Bajo. Hutan Mbeiling sendiri termasuk ke dalam hutan wisata (geo tourism) yang
menjadi sumber penghijauan, air tawar serta fungsi lingkungan dengan ekosistem
yang masih terjaga untuk daerah sekitar yang cenderung kering dan juga bertipe
pelabuhan. Untuk menuju kawasan hutan yang di dalamnya terdapat air terjun
Cunca Rami, kita harus menuju Kampung Roe yang merupakan pintu gerbang memasuki
kawasan Hutan Mbeiling sampai ke puncak perbukitannya.
Jasa
guide lokal setempat sangat dibutuhkan untuk menuju lokasi air terjun, karena
itu biasanya pasti ada penduduk yang menawarkan untuk mengantar dengan harga
yang bisa dinegosiasikan. Dari sana kita harus melanjutkan perjalanan dengan
berjalanan kaki melewati berbagai medan dengan berbagai panorama menarik hingga
akhirnya sampai ke lokasi air terjun.
Selama
1 jam jalan kaki pemandangan menyusuri hutan berganti-ganti yang tentunya indah
untuk dinikmati pertama kita akan melewati hutan kemiri lalu berganti dengan
jalanan sedikit mendaki dan menurun di bukit terakhir akan disajikan pematang
sawah dengan aliran sungainya yang jernih. Tak heran bila Hutan Mbeiling
dikategorikan sebagai hutan wisata yang unik karena keberagaman panorama
penghijauan yang tersaji di sini. Jalur menuju Cunca Rami masih jarang dijamah
sehingga memang terkadang kita harus melewati tumbuhan-tumbuhan kecil yang
terpaksa diinjak karena belum terbentuk jalur.
Dari
atas bukit kita bisa melihat penampakan air terjun dari atas sehingga kita
harus melanjutkan perjalanan untuk sampai ke dasar jatuhnya air terjun
tersebut. Sesampainya di bagian bawah air terjun, semua rasa lelah setelah
menyusuri hutan hilang karena melihat kesegaran air terjun nan eksotik ini.
Cunca Rami memiliki ketinggian kurang lebih 30-40 meter dan jatuh ke dasar yang
merupakan danau kecil menyerupai seperti kolam sehingga cocok untuk digunakan
sebagai tempat berendam bagi wisatawan yang haus kesegaran.
Air
terjun ini jatuh melewati bebatuan beberapa tingkat dan memiliki beberapa jalur
hingga akhirnya berujung ke dua jatuhan air utama yang saat turunan
terakhirnya. Intensitas air yang jatuh di Cunca Rami ini cukup tinggi debit
airnya sehingga terpaan air yang sampai ke tubuh bisa juga dimanfaatkan untuk
memijat badan yang keletihan tadi.
Pemandangan
sekitarnya yang hijau royo-royo serta kicauan burung di hutan membuat pikiran
kita semakin rileks sambil berendam di tengah jatuhnya air yang lumayan deras.
Sayang, di sini belum tersedia kamar ganti atau fasilitas penunjang sehingga
setelah mandi kita harus siap berganti di pojokan sekitar air terjun. Untuk
makanan di sini tidak ada penjual makanan dan minuman sehingga membawa
perbekalan adalah hal yang wajib dilakukan oleh wisatawan.
Kesejukan
udara khas hutan yang masih alami seringkali mengundang wisatawan untuk tetap singgah
dan membuat betah dengan menginap di sekitar sini. Di sekitar wilayah Hutan
Mbeiling terdapat satu desa adapt budaya yang sedang dikembangkan untuk
dijadikan tujuan wisata, yang bernama Desa Liang Ndara. Berkat pendayagunaan
masyarakat yang didampingi LSM Burung Indonesia, masyarakat desa ini kini mulai
memperhatikan potensi wisata yang ada di sekitar mereka dan mengembangkannya
sehingga di kawasan ini sudah tersedia 14 buah homestay yang didayagunakan
warga untuk menampung wisatawan yang ingin menginap.
Bila
Anda memiliki keinginan untuk menginap di sekitar wilayah Hutan Mbeiling
setelah jatuh cinta dengan panorama dan cunca yang dimilikinya, tak ada
salahnya untuk sekalian mengunjungi Desa Liang Ndara yang juga menghadirkan
banyak atraksi budaya khas Flores. Reservasi bisa dilakukan dengan menghubungi
ketua LSM Burung Indonesia yang bernama Ibu Maria di +6281338575056 , sekalian
akan dibantu oleh pemandu yang berasal dari penduduk lokal yang akan
merekomendasikan pula titik wisata lain di sekitar Hutan Mbeiling.
Setelah
populer akan wisata lautnya, Labuan Bajo membuktikan bahwa masih banyak potensi
wisata lain di tanah Flores yang sayang untuk dilewatkan. Bagi yang rindu
dengan segarnya air tawar alami serta sejuknya udara dataran tinggi, Cobalah
datang mengunjungi Cunca Rami selagi singgah di Labuan Bajo.
J. NISA
PURUNG
Pesona setiap pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Labuan
Bajo, Flores pasti membuat wisatawan tertarik untuk mengunjunginya satu per
satu. Hampir semua pulau yang ada di sekitar Labuan Bajo memilikikontur yang
sama yaitu bukit dengan rumput-rumput savanna serta ilalang-ilalang. Bila musim
kemarau bukit berwarna kuning kecokelatan sedangkan pada musim hujan berwarna
hijau. Pemandangan tersebut seakan selaras dengan keindahan warna laut yang
biru berdegradasi turquoise di tepi pulau, ditambah lagi dengan kejernihannya
yang membuat isi laut terlihat dari atas permukaan.
Kekayaan yang dimiliki Flores ini belum semuanya
terpublikasi ke telinga wisatawan selain tentang P. Komodo, P. Rinca dan
pulau-pulau populer lainnya yang membangun private resort. Masih banyak
sebenarnya potensi wisata yang dimiliki oleh puluhan pulau lainnya yang
sebagian besar tak berpenghuni untuk digali keunikannya sehingga menjadi daerah
wisata baru.
Salah satu diantaranya adalah satu pulau kecil yang terletak
dekat dari P. Rinca yang tak memiliki nama jelas, namun sering disebut oleh
warga Bajo dengan nama Nisa Purung. Nisa Purung adalah bahasa Flores yang
artinya pulau yang terbakar. Tentu penasaran mengapa pulau ini dikatakan
terbakar. Itulah yang menjadi daya tarik istimewa dari Nisa Purung yang belum
banyak diketahui publik keberadaannya.
Terletak di perairan Selat Molo yang merupakan selat antara
Pulau Flores dengan Pulau Rinca dengan jarak tempuh sekitar 1-1,5 jam dari
Labuan Bajo, pulau tak berpenghuni memiliki keistimewaan di mana terdapat
gugusan batu besar yang berwarna merah muda (pink) secara alamiah yang letaknya
di atas bukit. Untuk menuju kawasan ini, kita harus menggunakan kapal motor
nelayan kecil yang bisa menjangkau perairan dangkal sebab memang permukaan laut
yang dekat dengan Nisa Purung cukup dangkal dan juga sering berarus kencang dan
tidak ada dermaga.
Berbasah-basahan jalan menuju pantainya memang tidak dapat
dihindarkan dan merupakan sensasi tersendiri ketika memasuki pulau yang jarang
pula dijamah manusia ini. Anda bisa saja hanya melihat onggokan batuan besar
ini dari tengah laut yang sangat kontras warnanya dari lingkungannya, akan
tetapi sepertinya semua wisatawan yang datang ke sini pasti merasa tertantang
untuk dapat mencapai puncak batuan itu dengan melakukan tracking menjelajahi
pulau.
Sebelum tracking pastikan Anda memakai pakaian yang nyaman
untuk suasana sedikit mendaki seperti persiapkan membawa sepatu atau celana
panjang untuk lebih nyamannya lagi. Jadi pakaian Anda yang tadi basah bisa
sambil dijemur selagi Anda sudah berganti pakaian untuk siap tracking.
Tenang saja walau memang jarang dijamah manusia namun di
pulau ini belom ada cerita terdapat hewan liar yang buas. Tapi ada tantangan
lain yang harus dihadapi wisatawan yang ingin tracking ke atas yaitu medan
perjalanan yang menanjak. Tidak terlalu waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke
atas yang penting Anda siap menghadapi medan yang masih ‘perawan’ ini, Faktor
jarang dikunjungi inilah yang membuat jalur menuju Nisa Purung masih ditumbuhi
semak belukar sehingga belum terbentuk jalur sempurna untuk menuju atas.
Kemiringan medan juga makin ke atas makin dibutuhkan fokus
dan kehati-hatian yang ekstra. Selain itu, tipe tanaman yang tumbuh di pulau
ini selain banyak terdapat ilalang, banyak juga tanaman berduri yang harus
sangat diperhatikan keberadaannya agar Anda tidak terluka. Saat sudah mencapai
pinggiran batuan tersebut rasanya ingin langsung merayap di atas dengan
perasaan heran dan juga takjub tentang terbentuknya Nisa Purung ini. Karena
warnanya yang pink, wisatawan asing lebih mengenalnya dengan nama Strawberyy
Sundae. Alasannya adalah penampakannya seperti ek krim strawberry yang bertabur
kacang.
Kacang yang dimaksud adalah goresan atau pola berwarna
kuning yang ada di batuan. Selain untuk wisata, Nisa Purung rasanya juga pantas
untuk dijadikan objek ilmu pengetahuan bila ada peneliti yang ingin lebih
mengeksplor mengenai penyebab terjadinya batuan itu. Sayang saat ini sebagai
orang awam kita juga tidak mendapat pengetahuan lebih jelas tentang asa usul
“strawberry sundae” milik Flores tersebut, hanya bisa menikmati keindahan dan
keajaiban ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Jangan lupa membawa air minum agar Anda
tidak dehidrasi dan fisik tetap fit saat turun menuju kapal lagi.
Ada beberapa asumsi yang muncul tentang alas an mengapa Nisa
Purung tidak sepopuler pulau lainnya yang bahkan jaraknya lebih jauh dari
Labuan Bajo. Pertama penyebabnya mungkin karena letak “strawberry sundae” ini
yang sedikit terpencil, tidak langsung di hadapan mata wisatawan saat berlayar
di jalur perairan (diperlukan sedikit mengitari sekitar pulau untuk mendapatkan
lokasinya).
Kedua ada juga yang beranggapan bahwa penduduk sekitar yang
tahu keberadaan Nisa Purung sengaja tidak ingin mempopulerkan keberadaan batuan
indah ini karena takut akan dieksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung
jawab. Walaupun begitu sebenarnya Nisa Purung layak sekali untuk dijadikan objek
wisata baru sebagai variasi pariwisata di sekitar Labuan Bajo yang tidak melulu
harus tentang snorkeling atau diving.
Asal semua elemen masyarakat baik dari penduduk lokal
ataupun wisatawan yang tetap memiliki tanggung jawab serta hormat pada
lingkungan sekitar tentu kekhawatiran tersebut tidak akan terjadi. Saat
berkelana di sekitar Taman Nasional Komodo jangan lupa untuk meminta nahkoda
kapal Anda menepi di Nisa Purung ini dan Nikmatilah bukti kebesaran Sang
Pencipta yang penuh cinta.
K. DANAU SANO NGGOANG
Selain dikenal
memiliki Danau Kelimutu, wilayah NTT juga ternyata memiliki satu lagi danau
vulkanik yang juga memukau wisatawan karena keistimewaannya. Danau itu dikenal
dengan nama Danau Sano Nggoang yang merupakan danau terbesar di provinsi NTT.
Danau ini terbilang jauh lebih dekat dari kawasan Labuan Bajo yang merupakan
gerbang pariwisata di Flores, dengan menempuh jarak sekitar 63 km dengan
perjalanan selama kurang lebih 3 jam kita akan sampai di Desa Nunang yang
merupakan lokasi gerbang masuk ke kawasan hutan tempat danau ini berada.
Hutan yang dimaksud adalah Hutan Mbeiling yang membelah ke
beberapa kawasan desa, termasuk di dalamnya terdapat juga Danau Sano Nggoang
yang berada di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju
kawasan ini biasanya wisatawan ditawarkan untuk menyewa mobil yang bisa dipilih
jenisnya di sepanjang jalan di Labuan Bajo.
Medan perjalanan menuju Desa Nunang sedikit bervariasi, dari
pusat kota Labuan Bajo jalanan ke arah wilayah kota dekat Desa Nunang adalah jalanan
beraspal yang teramsuk dalam bagian jalan provinsi transflores, dari sana untuk
memasuki kawasan desa jalanan yang dihadapi sedikit berbatu namun tidak terlalu
menyulitkan.
Mendekati kawasan rumah penduduk di Desa Nunang pemandangan
yang tersajikan mulai menghijau, yaitu rapihnya berjejer pohon-pohon kemiri
yang tumbuh di kawasan Hutan Mbeiling. Setelah itu penampakan keindahan danau
sedikit terintip dari jalan dan kawasan desa. Walau hanya terlihat sebagian,
namun keindahannya juga sudah tampak dari warna danau yang hijau kebiruan serta
terdapatnya pepohonan hijau di sekitar danau.
Di desa ini biasanya digunakan bagi wisatawan untuk menginap
sebab di sini sudah terdapat banyak penginapan guest house yang dikelola
penduduk sekitar. Jangan ditanya masalah keramahan penduduk sana, sebab saat
ini melalui bantuan sebuah LSM masyarakat di Desa Nunang sedang dibina untuk
menjadi masyarakat pariwisata yang menyokong majunya pariwisata di sekitar
desanya.
LSM tersebut merupakan kelompok LSM Burung Indonesia yang
menetap di wilayah desa ini untuk memajukan wisata di sekitar desa terutama
Hutan Mbeiling dan Danau Sano Nggoangnya, menjaga lingkungan sekitar Hutan
Mbeiling sekaligus menjamin keselamatan endemic burung khas Flores seperti
gagak Flores, dll.
Berada di kawasan Danau Sano Nggoang memang tak cukup bila
hanya datang lalu pulang, pasti wisatawan akan menginap di sini untuk menikmati
sensasi pegunungan nan sejuk yang beda dari wilayah pantai Labuan Bajo. Untuk
menuju lokasi adanya danau, dari penginapan kita bisa berjalan kaki karena
memang jaraknya tidak terlalu jauh atau ada juga pilihan lain dengan
menggunakan kuda yang disewakan di guest house oleh para penduduk.
Karena merupakan danau vulkanik, bau belerang tentunya
menjadi hal yang sudah biasa tercium di sini. Bila Anda tidak kuat menciumnya
bawalah sapu tangan dan juga air untuk sedikit mengurangi kenyengatannya. Ada
belerang tentunya ada sumber air panas, ya di sini memang terdapat sumber air
panas yang bisa dimanfaatkan sebagai pemandian dan masih alami belum ada campur
tangan perusak dari manusia. Hanya ada beberapa bambu yang menjadi keran aliran
air panas itu untuk mandi bagi wisatawan.
Pemandangan danau sendiri memang sangat indah, persis
seperti danau-danau di Eropa, kawasan pegunungan Alpen, di mana danaunya
berwarna hijau kebiruan dikelilingi hutan pohon-pohon nan hijau serta tepiannya
ada bebatuan. Untuk wisata merefleksikan diri sambil mencari inspirasi rasanya
danau ini adalah tempat yang paling cocok di tanah Flores ini.
Hal lain yang bisa dilakukan saat berada di sini tentunya
mencoba tracking ke bukit savanna dekat desa yang menampilkan pemandangan danau
dari atas bukit serta pemandangan rumah-rumah penduduk Desa Nunang yang nampak
menyatu sebagai kesatuan elemen dengan danau dan hutannya.
Selain memang pesona dari danau yang menarik wisatawan untuk
datang, keramahan serta jamuan yang diberikan masyarakat desa Nunang bisa
diacungkan jempol. Saat ada wisatawan hampir setiap kali mereka akan melakukan
ritual ucapan selamat datang, begitu pula saat wisatawan meninggalkan desa.
Pada pagi hari Anda akan terbangun dengan berlatarkan suara kicauan burung yang
hidup di hutan dekat desa, dan malam harinya dengan keadaan listrik seadanya
rasanya melihat ribuan bintang bertaburan di langit atau star gazing harus Anda
nikmati sambil bercengkrama dengan warga ditemani dengan sajian kopi Flores
yang rasanya mantap.
Dalam beberapa tahun rasanya tidak mungkin bila wilayah Desa
Nunang akan menjadi salah satu kampung wisata yang terkenal di Flores karena
kapasitas warganya yang sudah terbina dalam meningkatkan pariwisata desanya,
berkat jasa orang-orang dari LSM Burung Indonesia.
Bila Anda tertarik melakukan reservasi atau guide dari
wilayah Labuan Bajo, Anda juga bisa menghubungi LSM Burung Indonesia yang
menangani ekoturisme di wilayah Hutan Mbeiling, Flores di nomor telepon (0385)
41753 atau websitenya di www.floresecotourism.com yang juga mencantumkan nomor
kontak pribadi pengurusnya serta gambaran wisata yang dikelolanya.
Temukan ketenangan dan inspirasi di pinggir danau seraya
ditemani kicauan burung serta keramahan masyarakatnya yang membuat Anda betah
dan merasa menjadi bagian dari masyarakat Nunang. Rasakan sensasi liburan
dengan suasana berbeda nan indah dan tenang khas pegunungan di tanah Flores
hanya di kawasan Danau Sano Nggoang.
L.
PINK
BEACH
UNTUK melihat
pantai indah berwarna pink,tak perlu sampai pergi jauh ke luar
negeri, seperti ke Bahama, karena Indonesia juga punya pantai yang pasirnya
berwarna pinkdan lokasi tersebut letaknya berada di kawasan Pulau
Komodo, provinsi Nusa Tenggara Timur, oleh penduduk setempat dinamakan Pantai
Merah. Namun para wisatawan mancanegara yang sering berkunjung ke pantai ini
menyebutnya sebagai Pink Beach.
Di sepanjang daerah pantai ini tidak
ada bangunan apa-apa dan tidak dihuni penduduk alias pantainya kosong, hal ini
tentu saja sangat disukai oleh para wisatawan yang lebih menyukai pantai yang
tenang dan indah.
Para wisatawan asing yang berkunjung
ke sini sering membayangkan dirinya sambil berfoto di pantai dengan latar
belakang air laut yang bergradasi biru, ditambah panorama perbukitan hijau,
langit biru cerah dengan gumpalan awan putih, dan ditemani hamparan pasir yang
benar-benar berwarna pink, sangat indah dan bernuansa romantis.
Konon di dunia hanya terdapat 7
pantai yang memiliki hamparan pasir berwarna pink, salah satunya yang ada di
Pulau Komodo.
Menurut asalnya, pasir pink ini
terbentuk dari pecahan karang berwarna merah, namun kabar lain mengatakan
sebenarnya warna pink ini dihasilkan karena adanya hewan
mikroskopik semacam amuba bernama Foraminifera yang memproduksi warna merah
atau pink terang pada karang, tak heran apabila kita mengambil sejumput
pasirnya, maka terlihat pasir berwarna merah di antara pasir putih.
Uniknya dari pantai ini, jika ombak
menyapu pasir dan menariknya kembali, maka warna pasir tersebut berubah menjadi
pink tua, sangat indah. Butiran pasirnya halus dan lembut, terasa empuk saat
berjalan atau berjemur di atasnya.
Kegiatan
di sana selain berfoto, bisa berjemur, berenang, atau sekedar duduk menikmati
pemandangannya. Selain tidak terlalu ramai dan komersil, aktifitas berenang pun
sangat menyenangkan dan menyegarkan mata, karena banyak hard corals dan soft
corals yang berwarna-warni dan masih sehat, ditambah lagi banyaknya
ikan-ikan hias, seperti clown fish (ikan Nemo),butterfly
fish, bat fish dan masih banyak lagi.
Cara mencapai Pink Beach, cukup
mudah, dari Bali kita terbang ke Labuan Bajo, lalu menyewaspeedboat atau
kapal nelayan dari Labuan Bajo menuju Pulau Komodo. Sebelum sampai ke Pink
Beach, biasanya para turis mampir dahulu Taman Nasional Komodo di Loh
Liang untuk melihat langsung kehidupan komodo liar.
Bagi penggemar scuba diving, alam
bawah laut di Pink Beach luar biasa bagus, Anda dapat
mengikuti dive trip melalui Dive Operator yang
ada di Labuan Bajo.
Sebagai catatan, karena di pantai
ini tidak ada warung atau restoran, Anda disarankan membawa perbekalan sendiri
secukupnya.
M. PULAU
KALONG
Pulau Kalong merupakan salah satu pulau kecil di Taman
Nasional Komodo (TNK). Pulau ini terletak di antara pulau Rinca dan pulau
Papagarang. Masyarakat menyebutnya pulau Kalong lantaran di pulau yang diintari
oleh hutan bakau ini dihuni jutaan burung kalong. Pulau kalong dapat ditempuh
sekitar 35 menit dengan speedboath darikota Labuan Bajo dan merupakan salah
satu obyek wisata terkenal yang sangat diminati oleh wisatawan mancanegara.
Pulau yang memiliki luas tidak lebih dari 5 hektar itu,
saban hari ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun
mancanegara. Mereka datang untuk melihat jutaan burung kalong yang
bergelantungan di atas pepohonan bakau. Sebuah pemandangan yang sangat memukau.
Para wisatawan mengaku senang berada di pulau itu terutama pada hari menjelang
malam.
Biasanya, ketika menjelang matahari terbenam sekitar pkl.
18.00 sore, jutaan burung kalong akan keluar dari sarangnya dan terbang di atas
langit biru. Secara berkelompok burung-burung kalong itu akan terbang
meninggalkan “rumah” mereka hingga baru kembali pada keesokan harinya.
Para pengunjung dapat menyaksikan “kebiasaan” burung-burung
itu pada setiap sore hari atau pada pagi hari ketika burung-burung itu kembali
lagi ke “rumah” mereka. Pengunjung dapat menikmati kejadian unik nan pesona
tersebut di atas kapal atau perahu motor. Pasalnya, di pulau ini tidak ada
dermaga atau pelabuhan. Pengunjung hanya boleh berlabuh di tengah laut di
sekitar pulau Kalong sambil menikmati indahnya panorama alam.
Menurut penuturan sejumlah guide, sampai kini belum
diketahui secara pasti ke mana jutaan burung kalong itu akan pergi dan berlabuh
untuk mencari makan. “Kita tidak tahu pasti ke mana jutaan burung kalong itu
pergi dan mencari makan. Tetapi yang pasti, setiap sore hari tepatnya menjelang
mata hari terbenam, burung-burung itu akan terbang keluar pergi kea rah timur
dan baru akan kembali esok pagi,” ujar Ardianus, seorang guide yang mengaku
sering menemani para turis melancong ke lokasi itu.
Ia mengaku, banyak wisatawan mancanegara sangat terkesan dan
menikmati keunikan alam dan burung-burung itu. Biasanya, para wisatawan
berangkat ke pulau itu pada siang hari. Di pulau itu terkadang para wisatawan
melakukan snorkeling atau diving sambil menanti datangnya malam, saat
burung-burung kalong itu hendak terbang keluar dari peristirahatan mereka.
Setelah menyaksikan burung kalong, para wisatawan juga akan melanjutkan
perjalanan ke Loh Buaya di pulau Rinca atau ke pulau Komodo untuk melihat
binatang purba komodo.
Perairan di sekitar pulau Kalong sendiri terkenal tenang dan
cukup cocok untuk kegiatan snorkling maupun diving lantaran alam bawah lautnya
yang indah. Di lokasi ini, terumbu karang masih cukup terawat baik sehingga
menjadi tempat tinggal berbagai jenis ikan. Aktivitas nelayan memang dikurangi
karena merupakan bagian dari daerah konservasi.
Warga
setempat meyakini pulau Kalong merupakan habitan asli burung Kalong sehingga
harus dijaga kelestariannya. Tidak heran jika di pulau ini dilarang keras
menebang kayu bakau atau menangkap ikan dengan cara-cara yang tak ramah
lingkungan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hutan bakau dan burung
kalong, membuat masyarakat setempat dan para pengunjung selalu menjaga dan
melestarikannya dari dulu sampai sekarang.
N. PANTAI
PEDE
Pantai Pede di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara
Timur, dengan segala pesonanya diminati banyak pemodal. Tawaran investor tak
sedikit yang datang untuk mengubahnya menjadi kawasan hunian mewah. Namun,
pantai ini mampu bertahan melewati perjalanan panjang menjadi obyek wisata
keluarga yang merakyat. Letaknya tak jauh dari pusat kota, yakni hanya 2 kilometer
dari Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat.
Untuk menjangkau pantai ini, bagi Anda dari luar NTT, ada
sejumlah alternatif, yakni melalui Kupang dengan pesawat ke Kabupaten Sikka
atau Ende, kemudian melanjutkan perjalanan darat hingga Labuan Bajo. Alternatif
lain, dari Denpasar, Bali, langsung menuju Labuan Bajo.
Pantai Pede mempunyai keunikan, selain panorama yang indah
dengan pasir putihnya, kita juga bisa menikmati keindahan pemandangan saat
matahari terbenam. Perairan pantai ini juga sangat tenang dan bening.
Tak heran pantai ini sangat digemari karena masyarakat
sekitar dapat berenang sampai puas tanpa ada ombak besar. Meski air laut pasang
naik atau musim barat, perairan di Pantai Pede relatif tenang sebab pantai ini
dikelilingi sejumlah pulau, seperti Pulau Bajo dan Pulau Bidadari. Kawasan
Pantai Pede juga menjadi tempat yang asyik untuk memancing.
Pantai Pede dengan luas daratan 3 hektar (ha) itu ramai
dikunjungi kalangan keluarga pada akhir pekan, hari Minggu atau hari libur,
sedangkan di luar itu relatif sepi. ”Saya sering ke sini, selain murah,
pemandangan pantai ini juga indah,” kata Ferdi Labora, Selasa (8/11/2011).
Ferdi siang itu berkunjung ke Pantai Pede bersama kekasihnya, Cahca Leoni
Marsa.
Menurut tokoh masyarakat di kawasan Pantai Pede, Yusuf
Ondeng (78), pantai ini seiring dengan perjalanan waktu telah mengalami banyak
perubahan, di antaranya jenis pepohonan yang tumbuh. ”Dulu di Pantai Pede
banyak tumbuh pohon kelapa yang lebat dan banyak sarang lebah sehingga saya
sering mencari madu di situ. Namun, sekarang pohon kelapa sudah jarang, yang
ada hanya pohon asam,” kata Yusuf.
Yusuf juga mengungkapkan, dari cerita turun-temurun, pada masa
Kesultanan Bima, wilayah Pantai Pede dihuni oleh orang dari Bonerate, Sulawesi.
Wilayah Kesultanan Bima saat itu untuk Pulau Flores mencakup
wilayah Manggarai, yang pusatnya di Reo, yang kini secara administratif masuk
lingkup Kabupaten Manggarai. ”Sebagai bukti dulu orang Bonarate pernah menghuni
Pantai Pede, di sekitar situ sampai sekarang masih ada makam tua milik orang
Bonerate,” tutur Yusuf.
O. PANTAI BINONGKO
Pantai Binongko yang terletak di Kelurahan Labuan Bajo
Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, merupakan satu obyek wisata yang
sangat menarik minat masyarakat dan wisatawan mancanegara. Maklum, di kawasan
ini selain berpasir putih nan halus, juga air lautnya yang jernih sehingga
sangat cocok untuk berenang atau snorkeling.
Lokasi Binongko hanya berjarak sekitar 3 Km dari
pusatkotaLabuan Bajo. Untuk mencapai kawasan itu bisa ditempuh dengan kendaraan
darat atau kapal laut dari Kampung Ujung atau melalui jalur darat dari Padang
SMIP Desa Batu Cermin menuju pantai Binongko. Selain bisa menikmati indahnya
pantai Binongko, anda juga bisa menyaksikan keindahan panorama alamkotaLabuan
Bajo dan sekitarnya dari atas bukit Binongko.
Tercatat
tidak banyak penduduk yang berdiam di kawasan itu. Di lokasi yang banyak
dikunjungi masyarakat ini hanya terdapat satu panti asuhan untuk para
penyandang cacat dan sebuah perusahaan ikan.