Rabu, 19 April 2017

   ISTILAH ISTILAH DALAM BISNIS PARIWISATA                                         

1.       Adult                                     :  kategori  dewasa dalam tiket ,tidak akan dapat diskon dalam pembelian.
2.       Airport service charge    :  biaya yang di bebankan oleh pengelola bandara  kepada penumpang karena ikut memanfaatkan  jasa jasa pelayanan dan penggunaan fasilitas dalam terminal tersebut.
3.       Auxiliary service operator : Penyelenggara /penyedia pelayanan meliputi akomodasi hotel,tour,car rental,air taxi, dan yang bersangkutan dengan perjanan penumpang.
4.       Baggage allounce             : Kapasitas  bagasi / barang yang boleh di bawa oleh penumpang  untuk keperluan / kenyamanan penumpang selama dalam perjalan.
5.       Baggage claim area          : Tempat /area pengambilan  bagasi  di airport.
6.       Boarding airline                 : Penerbangan yang mengangkut penumpang dari suatu kota keberangkatan / boarding point.
7.       Boarding point                  : Tempat  / kota airport di jadwalkan berangkat memakai suatu penerbangan tertentu.
8.       Booking                                : Pemesanan tempat / akomodasi yang di buat / di miliki.
9.       Carrying  member            :  Setiap airline yang yang ikut aktif mengangkut dalam suatu perjalan penumpang.
10.   Check in                               : Tindakan penumpang untuk melapor  kepada pihak hotel maupun airline.
11.   Children                               : Kategori anak anak yang di kenakan diskon pada saat pengissuedtan tiket tetapi hanya garuda Indonesia yang memberikan diskon kepada anak anak.
12.   Continue itinerary           : Segmen  lanjutan ( tidak termaksud GAP) yang di miliki penumpang dalam suatu perjalanan.
13.   Connection fight              : Pemberhentian pesawat terbang di suatu tempat tertentu,kemungkinan untuk pergantian pesawat biasanya terjadi pada penerbangan internasional.
14.   Destination                         : Tempat tujuan penerbangan ,tempat yang merupakan tujuan akhir dari suatu perjalanan.
15.   Deplanning point             : Kota / airport tempat penumpang di jadwalkan mengakhiri perjalanan dalam suatu penerbangan tertentu.
16.   Direct fight                          : Penerbangan langsung dari origin  point menuju destination tanpa ada transit.
17.   Duplicate reservation     : Dua pembukuan / lebih yang di buat oleh seseorang /beberapa penumpang yang sama ,sedangkan penumpang tersebut hanya dapat menggunakan salah satu dari reservasi tersebut.
18.   Endorsement                    : Otorisasi dari perusahaan  penerbangan kepada pejabatnya untuk memindahkan hak pemakaian dari ticket atau fight coupon  kepada perusahaan penerbangan lainnya.
19.   Estimate time arrival (ETA) : Ketika sebuah kapal,kendaraan,pesawat kargo,layanan darurat/computer di harapkan tiba di tempat tertentu.ETA biasanya berarti perkiraaan waktu /di harapkan dari kedatangan /untuk mencapai /tersisa.
20.   Estimate time departure     : Data dan waktu di mana perjalanan udara / kapal di perkirakan akan berangkat dari sebuah kota melalui bandara / pelabuhan.
21.   Excange voucher                 : Voucher yang di keluarkan oleh BPW yang ada di dalam negeri sebagai pengganti voucher yang di bawa wisatawan dari negaranya.
22.   Fare                                         : Harga yang di kenakan pada penumpang ketika membeli tiket,fare terdiri  atas : fare basic,fuel surcharge,tax dan iuran wajib jasa raharja.
23.   Flight coupon                     : Kupon yang harus di isi sesuai dengan data reservasi penerbangan .
24.   Flight number                    : Nomor penerbangan suatu airline.
25.   Gap                                        :  Bagian dari itinerary penumpang yang  melibatkan transportasi di luar airline.
26.   Group                                   :  Permintaan reservasi dari rombongan  penumpang dengan jumlah sepuluh orang atau lebih (tidak termaksud bayi) yang bermaksud melakukan perjalan bersama.
27.   High season                        : Masa di manapermintaan terhadap kamar / tiket sangat tinggi sehingga  hotel dan airline sering menaikan harga kamar/tiket .high season terjadi pada hari hari besar  seperti natal,idul fitri,tahun baru,dll.
28.   Inadmissible                       : Penumpang yang tiba dari suatu penerbangan tetapi kedatangannya di tolak oleh badan yang berwenang di Negara tersebut.
29.   Incentive travel                                : Perjalanan liburan di atur oleh / melalui majikan dan di berikan sebagai bonus motivasi  untuk kualifikasi karyawan /penjual.
30.   Handicap  passenger      : Penumpang Yng cacat ,untuk itu,airline selau memberikan fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan oleh penumpang cacat seperti kursi roda,dll.
31.   Infant                                    :  Infant (0 bulan – 23 bulan) memiliki tingkat diskon yang mencapai 75% dari  total fare.
32.   Inclusive                              : Paket wisata (suatu perjalanan wisata dengan satu  atau lebih tujuan kunjungan  yang di susun dari berbagai fasilitas perjalan tertentu dalam acara yang tetap serta di jual dengan harga tunggal yang menyangkut seluruh komponen wisata).
33.   Intercharge fight              :  Penerbangan yang di operasikan oleh dua / lebih perusahaan yang sama dari suatu boarding point sampai deplaning point untuk memberikan keuntungan lansung kepada penumpang.
34.   Interline point                   : Setiap kota / airport dalam suatu itinerary penumpang,tempat penumpang bergantian / berpindah penerbangan dari suatu airline lainnya.
35.   Itenerary                             : Keseluruhan perjalanan penumpang dari awal hingga akhir meskipun di dalamnya terdapat / di pisahkan oleh gap.
36.   Late cancelation               : pembatalan reservassi yang di lakukan penumpang menjelang saat keberangkatan sehingga airline tersebut tidak mungkin menjualnya kembali.
37.   Cancel free                         : Pembayaran / pembatalan.
38.   Leg                                         : Jarak antara pemberhentian penerbangan  yang berurutan pada satu perjalanan.
39.   Low season                        : suatu periode dalam setahun di mana arus perjalanan wisatawan rendah.
40.   Married segment             : Penggabungan antara connecting fight dengan leg yang hanya  mempunyai perbedaan pada origin dan destination.
41.   Minumum connecting time  : Waktu minimum yang di butuhkan operator  untuk mentransfer  penumpang dan bagasi dari satu penerbangan  ke penerbangan ke penerbangan yang lain.
42.   Missconnection                :  Suatu situasi yang terjadi apabila  seseorang  penumpang terlambatnya penerbangan sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan  dengan penerbangan berikutnya.
43.   Miscellaneous  chargers orders :   Suatu  situasi yang terjadi apabila seseorang  penumpang yang terlambat tiba di interline point akibat dari terlambatnya penerbangan  sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan dengan penerbangan berikutnya.
44.   No record passenger      : Suatu keadaan ketika penumpang yang telah memiliki reservasi dan menunjukan tiket dengan status confirm atau ok tetapi airline office dari boarding member di kota  tersebut tidak memiliki catatan transaksi yang menyatakan  bahwa airline pernah memberikan atau memberikan reservasi  dengan status confirm seperti yang tertera pada tiket.
45.   Non carrying airline         : airline yang  tidak ikut berpartisipasi dalam menerbangkan penumpang tetapi menangani permintaan / pembuatan reservasinya.
46.   Opendate ticket               :   Tiket penerbangan yang telah di terbitkan dengan tanggal keberangkatan dan  / nomor  penerbitan yang belum bisa di pastikan lagi.
47.   Origin                                    : Kota awal sebelum keberangkatan di mana seseorang penumpang memulai perjalanan.
48.   Over booking                     : Suatu keadaan ketika perusaaan  airline melakukan penerimaan reservasi melebihi kapasitas yang dapat di jual.
49.   Over  sale                            : sebuah kondisi di mana harga sebuah asset telah merosot tajam dan  ketingkat bawah yang nilai sebenarnya berada.
50.   Passenger name record : Catatan transaksi reservasi  yang telah di buat oleh setiap penumpang ,lengkap dengan berbagai informasi  Yang di perlukan  untuk memproses dan mengontrol transaksi reservasi tersebut  baik oleh kantor penjualan maupun participating airlines.



ORGANISASI HOTEL
Dalam struktur organisasi kedudukan menggambarkan tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak seseorang dalam rangka suatu satuan organisasi. Sifatnya fleksibel dan dapat diubah sesuai kebutuhan. Setiap hotel memiliki struktur organisasinya sendiri.
Berikut nama-nama jabatan utama yang biasa dikenal dalam bisnis perhotelan:
a.       General Manager (GM); Merupakan pimpinan tertinggi
b.      Resident Manager (RM), Executive  Assistant Manager (EAM); Wakil GM yang menangani operasional secara umum.
c.       Controller, Chief Accountant, Purchasing Manager, Store Manager, Credit Manager, Accounting Office Manager, Night Auditor; bidang pengelolaan keuangan dan pengawasan keuangan serta penyewaan ruang perkantoran.
d.      Food & Baverage Manager; pengelolaan & penjualan fasilitas terkait tataboga & konvesi. Di dalamnya termasuk; Bnaquet Manager, Restaurant Manager, Coffee Shop Manager, Room Service Manager, Waiter-waitress Bar Manager, Bartender, Grand Chef, Executive Chef, Sous Chef, Cook.
e.       Resident Engineer, Chief Engineer; mengelola pemeliharaan bangunan, instalasi dan pengoperasiannya, ijin serta perbaikannya (seluruh engineer department).
f.       Human Resources Development Manager, Personel Manager; mengelola SDM.

g.      Marketing Manager, Sales Manager, Public Relations Manager; pemasaran dan hubungan masyarakat.

Jumat, 17 Maret 2017

DAYA TARIK WISATA KABUPATEN MANGGARAI BARAT
(FLORES-NTT)

A.    WAE REBO
                      
Letaknya tak terlihat dari keramaian dengan pegunungan hujan tropis dan lembah hijau yang mendekap hangat dusun ini. Adalah Wae Rebo, sebuah dusun yang menjadi satu-satunya tempat mempertahankan sisa arsitektur adat budaya Manggarai yang semakin hari semakin terancam ditinggalkan pengikutnya. Mengapa berbentuk kerucut dan dari mana asal muasalnya masih sebuah tanda tanya besar, kecuali secuil informasi dari tradisi penuturan masyarakatnya sendiri yang merupakan generasi ke-18.
Wae Rebo berada di Kabupaten Manggarai, tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat, Desa Satar Lenda.  Di sini, satu desa dengan desa yang lainnya jauh terpisah lembah yang menganga di antara bukit-bukit yang berkerudung kabut di ujung pohonnya. Dusun Wae Rebo begitu terpencil sehingga warga desa di satu kecamatan masih banyak yang tak mengenal keberadaan dusun ini. Seperti Kampung Denge, desa terdekat ke Wae Rebo belum seutuhnya menjadi desa tetangga karena belum semua pernah ke Wae Rebo. Sementara warga Belanda, Perancis, Jerman, hingga Amerika dan beberapa negara Asia sudah sangat terperangah keindahan kampung yang rumahnya seperti payung berbahan daun lontar atau rumbia yang disebut mbaru niang.
Mbaru niang sudah punah sebelum memasuki awal tahun 70-an saat pemerintah mengkampanyekan perpindahan masyarakat pegunungan ke dataran rendah. Seorang antropolog, Catherine Allerton mengenang pembicaraannya dengan tu’a golo, pemimpin politik dan kepala kampung, juga tu’a gendang, kepala upacara adat. Warga Wae Rebo saat itu tak memutuskan meninggalkan dusunnya. Sudah generasi ke-18 hingga kini Wae Rebo bertahan dari seorang penghuni pertama dan pendiri Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, Empo Maro.
Leluhur Wae Rebo, termasuk Empo Maro, mewariskan 7 buah rumah kerucut yang sangat menawan meskipun telah dimakan usia dan beberapa di antaranya telah rubuh dan belum dibina kembali. Sebuah yayasan dari Jakarta diberitakan telah memberikan bantuan pertanda kasih sayangnya pada keaslian Wae Rebo dengan mendirikan satu rumah yang sama bentuknya dan dinamakan Tirto Gena Ndorom, dimana Tirto adalah secuil kata dari nama yayasan donatur tadi.
Rumah yang disebut mbaru niang terdiri dari 5 tingkat yang semua ditutupi atap dan menjadi sebuah kerucut. Di tingkat pertama, lutur, atau tenda adalah tempat tinggal penghuninya. Di tingkat kedua, lobo, atau loteng ialah tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga ialah lentar yang berfungsi menyimpan benih jagung dan tanaman untuk bercocok tanam lainnya. Tingkat keempat ialah lempa rae, yaitu tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang akan sangat berguna saat panen dirasa kurang berhasil. Sedangkan tingkat kelima, hekang kode, yaitu tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.
Di Wae Rebo, tidak seperti di dusun tradisional lain yang terkadang memiliki berbagai klan. Di sini hanya terdapat satu klan atau marga saja. Klan tersebut memiliki gendang pusaka di rumah gendang di tiang utamanya. Mereka memiliki pantangan untuk tidak makan satu binatang, yaitu musang. Dari penuturan tetua, leluhur mereka datang ke Wae Rebo dengan bertemankan seekor musang sehingga dipercayai bahwa musang adalah bagian dari leluhur mereka.
Berkembangnya penduduk Wae Rebo membuat keberadaan sebuah desa baru dirasakan harus dibina. Sebagian masyarakat Wae Rebo dibagi tempatnya dengan desa baru yang disebut Kombo. Tak banyak wisatawan mengetahuinya, walau Kombo dan Wae Rebo adalah masyarakat yang sama. Akan tetapi, karena lingkungannya dipertahankan sesuai aslinya, Wae Rebo seolah permata di atas lumpur. Kombo dipandang berbeda karena tidak berasal dari leluhur yang merintis keberadaan kampung itu.
Warga paruh baya dan anak-anak sekolah tinggal di Kombo, sedangkan orang tua dari para pria muda serta belasan tahun yang menginjak dewasa tinggal di Wae Rebo. Mereka semua memiliki kepercayaan yang sama. Katolik adalah agama yang dipeluk masyarakatnya, walau kepercayaan animisme masih kental terasa dalam kehidupan mereka.
Mereka yakin bahwa tanah atau hutan memiliki emosi dan perasaan. Sebelum bercocok tanam dan mencangkulnya, sebuah ritual harus dilakukan untuk meminta izin pada penunggunya. Bila tak berizin maka tanah akan menjerit dan merintih. Bercocok tanam pun harus rutin agar tanah tidak ‘menangis’ sedih. Warga Wae Rebo memandang tanah sebagai bagian dari mereka dan seperti manusia yang harus dihormati.
Di tengah dusun terdapat panggung batu yang dikisahkan telah dibina atas bantuan penunggu hutan yang berupa manusia gagah menawan yang mampu mengangkat batu besar dengan satu tangan. Masing-masing tangan dan kaki penunggu hutan ini memiliki jari berjumlah enam. Rambutnya dikisahkan sangat panjang dan parasnya cantik rupawan. Setelah panggung ini selesai, tarian caci digelar dan juga tabuhan gendang dilaksanakan (mbata).
Dari Ruteng, perjalanan dengan kendaraan selama 4 jam yang berkelok sehingga penumpang tak henti bergoyang. Sampailah di sebuah desa pesisir bernama Dintor. Jalan terus dilanjutkan menuju tanjakan ke pedalaman pulau menempuh pematang sawah dan jalan setapak di Sebu sebelum sampai di Denge. Dari Denge langkah terus dihentakkan melalui hutan kecil, melalui Sungai Wae Lomba. Setelah mengatur kerja paru-paru di sepanjang jalan setapak, dari Ponto Nao, terlihat pusat Wae Rebo, sebuah dusun yang mengepul asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul di sebuah lapang hijau. Itulah sisa-sia mbaru niang yang hampir punah.
Perjalanan panjang menuju dusun ini membuat masyarakatnya sedikit terasing dari peradaban, terutama pendidikan dan kesehatan. Seorang anak bahkan dewasa dirata-ratakan telah berjalan kaki selama 4 jam sekali keluar dari dusunnya dan kembali membawa sesuatu seberat 15 kilogram untuk dijadikan bahan makanan cadangan karena terbatas sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan. Dalam satu tahun, diperhitungkan seorang anak akan membawa barang dengan total berat hingga 2 ton.
Tiba di dusun ini, sambutan hangat adalah sebuah keniscayaan. Ubi, talas, dan jagung akan disajikan termasuk daging ayam. Menginap di sana seperti sebuah mimpi berhari-hari. Ada kesan khusus dan tak akan tergantikan oleh perjalanan apapun, karena memang hanya satu kali pengalaman ini terjadi di Wae Rebo. Di sini semua berawal, dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo yang disebutkan dalam bahasa daerah sebagai Neka hemong kuni agu kalo. [Diramu dengan bersumber dari catatan perjalanan Leonardus Nyoman, Martinus Anggo, dan hasil penelitian antropolog, Catherine Allerton.]

B.     GUA BATU CERMIN
Gua Batu Cermin adalah pesona sekaligus misteri di Labuan Bajo, Flores. Di dalam gua ini terdapat batu karang, batu stalaktit berkilau, dan fosil penyu yang berada di dinding guanya.
Flores tidak hanya soal pantai, laut, dan komodo saja. Terletak di Nusa Tenggara Timur, Flores memiliki banyak pesona yang harus Anda jelajahi, salah satunya adalah Gua Batu Cermin. detikTravel menelusuri dan melihat pesona gua ini dari dekat beberapa waktu lalu. Gua Batu Cermin berada di Kampung Wae Kesambi, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT. Letaknya 2,5 km dari Labuan Bajo. Gua ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi saat traveling ke Labuan Bajo.
Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 10 ribu, Anda akan berjalan selama 15 menit untuk menuju mulut gua. Hutan yang rindang dengan bambu-bambu melengkung menjadi pemandangan khas di sana. Perjalanan tidak berhenti di situ. Anda harus menapaki tangga di dalam gua untuk menuju dan melihat batu cermin tersebut. Setelah itu, mulut gua dengan tinggi setengah meter akan menjadi jalan masuk. Anda harus menunduk dan menggunakan senter untuk masuk ke dalamnya. Hati-hati kepala Anda!
Di sinilah keajaiban Gua Batu Cermin dapat Anda lihat. Stalaktit dan stalagmit di dalam gua terlihat jelas berkilauan saat disinari cahaya senter. kilauan ini berasal dari kandungan garam yang ada di dalam airnya yang mengalir kala hujan turun. Batu-batu berkilauan ini akan membuat siapa pun terkagum-kagum. Tak hanya memandangi, Anda juga bisa mengabadikan pesonanya di dalam kamera. Setelah berjalan jongkok, sampailah Anda di perut gua. Di sini ada keajaiaban yang sulit diterima akal sehat. Di atap guanya, terdapat fosil penyu yang berumur ribuan tahun. Fosil tersebut akan terlihat jelas saat Anda menyinarinya dengan senter. Sebabnya, suasana di dalam gua sangatlah gelap.
Tak hanya itu, misteri lainnya di dalam gua adalah batu-batu karang yang menjadi salah satu gugusan batu di dalam gua. Batu-batu karang tersebut memiliki kandungan garam yang tinggi. Batu-batu karang dan penyu yang seharusnya berada di bawah air laut, mengapa bisa berada di dalam gua di atas daratan?
Hal ini masih menjadi tanda tanya besar bagi peneliti atau pun masyarakat setempat. Batu Cermin juga memiliki anomali yang cukup unik. Batu yang ada di sini masih banyak yang mengandung garam. Jika Anda cukup tertantang dan memiliki rasa penasaran yang berlebih, bisa mencoba merasakan batu-batu di sini.
Tapi, tidak semua batu akan terasa asin. Hanya batu yang berkilau saja yang asin. Karena kilau itu berasal dari garam yang dikandung batu tersebut. Hal terakhir yang menjadi keajaiban gua ini adalah 'cermin'. Melalui celah selebar 1 meter dari tempat melihat fosil penyu, Anda dapat melihat 'cermin' tersebut. Di atas gua, terdapat lubang dengan diameter sekitar 2 meter yang membawa sinar matahari, lubang yang sangat terang. Di sekitar itu, terdapat celah sempit selebar 3/4 meter dengan dasar tanah keras dan beberapa batuan tumpul. Celah tersebut adalah cermin yang berisikan air yang memantulkan cahaya matahari.
Akan tetapi, perlahan air menyurut dan lama-kelamaan hilang, terutama saat musim kemarau. "Cermin" tersebut masih bisa dilihat saat sedang musim hujan. Itu pun harus menunggu hujan beberapa kali baru air bisa memenuhi celah tersebut.
Lebih dari itu, Gua Batu Cermin adalah kecantikan, keajaiban, sekaligus misteri dari Flores. Keindahan staklatit dan stalagmit di dalam guanya berbanding lurus dengan fosil penyu dan batu karangnya.



C.   PULAU KOMODO
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.
Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.
Pulau Komodo juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Rinca, Pulau Padar dan Gili Motang
Sejarah
Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita ini berawal dari Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.
Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis "New Seven Wonders of Nature" yang baru diumumkan pada tahun 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com.Pada tanggal 11 November 2011, New 7 Wonders telah mengumumkan pemenang sementara, dan Taman Nasional Komodo masuk kedalam jajaran pemenang tersebut bersama dengan, Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain[1]. Taman Nasional Komodo mendapatkan suara terbanyak.
D.   PULAU RINCA
Rinca adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Rinca beserta Pulau Komodo dan Pulau Padar merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Rinca berada di sebelah barat Pulau Flores, yang dipisahkan oleh Selat Molo. Pulau ini juga merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO, karena merupakan kawasan Taman Nasional Komodo bersama dengan Pulau Komodo, Pulau Padar dan Gili Motang.
Titik tertinggi pulau ini berada di Doro (Gunung) Ora, 670 m dpl. Di pulau ini hidup berbagai jenis binatang seperti komodo, babi liar, kerbau dan burung. Pulau Rinca dapat dicapai dengan perahu kecil dari Labuan Bajo di Flores barat. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.







E.   PULAU BIDADARI
Gugusan pulau-pulau kecil yang terletak di sekitar Labuan Bajo saat ini memiliki kepopuleran yang kian meningkat seiring dikenalnya P. Komodo dan P. Rinca. Pulau-pulau yang dianggap memiliki komponen menarik dan juga layak untuk dijadikan tujuan wisata banyak yang dibeli atau disewakan selama puluhan tahun kepada orang luar negri yang justru menyadari keelokan pulau-pulau tersebut sebelum orang Indonesia sendiri. Salah satu diantaranya adalah pulau yang dikenal dengan Pulau Bidadari yang memiliki luas sekitar 15 hektar.
Perjalanan menuju pulau ini bisa ditempu selama kurang lebih 15-20 menit dari Labuan Bajo dengan kapal kayu, atau bisa juga dari layanan antar jemput yang bisa disediakan pihak resort di sana saat melakukan reservasi. Pulau Bidadari sendiri memiliki sejarah yang cukup berliku mengenai masalah kepemilikannya yang konon sudah resmi dimiliki oleh warga Inggris bernama Ernest Lewan yang sudah membelinya dari H. Mahmud yang merupakan keturunan dari penguasa Bajo, namun ada yang mengatakan bahwa Ernest hanya diberikan izin untuk menggunakan haknya di pulau itu selama 30 tahun.
Sejak resmi dimiliki Ernest, nelayan dan penduduk dari pulau-pulau terdekat dilarang untuk berada di P. Bidadari ini karena dikhawatirkan merusak laut di sekitar pulau dengan perilaku mereka saat menangkap ikan yang berdampak merusak terumbu karang juga. Akhirnya setelah resmi memiliki hak guna pulau pada tahun 2000, Ernest membangun resort di pulau ini dan juga fasilitas diving yang berstandar internasional karena target market utamanya adalah wisatawan asing.
Nama bidadari sendiri terbentuk karena banyak sekali wisatawan luar negri yang suka telanjang saat berjemur di sini yang mayoritas wanita dan cantik-cantik sehingga penduduk sekitar Bajo yang mendengar rumor menganggap mereka yang ada di pulau tersebut seperti layaknya bidadari.
Keindahan pulau ini yang membuat Ernest jatuh cinta tentu bisa sangat dimengerti karena hamparan pasir putih yang halus dengan berhiaskan lautan yang biru jernih dan juga suasananya yang tenang pasti memikat siapapun yang datang, ditambah dengan keindahan bawah lautnya lah yang menjadi poin spesial dari pulau ini. Jumlah kamar yang terdapat di Pulau Bidadari ini hanya sebanyak 10 kamar berbentuk cottage dengan fasilitas yang bisa dikategorikan berbintang.
Jika dibandingkan dengan pulau-pulau yang memiliki bungalow juga, P. Bidadari ini termasuk digolongkan kelas atas karena rate harga kamarnya yang menggunakan Euro dan juga tentunya lebih mahal dari resort di pulau-pulau lainnya. Maklum saja karena target utama yang merupakan warga asing yang suka diving harga kamarnya pun termasuk biaya antar jemput dari bandara sampai ke pulau. Fasilitas lain yang dimiliki resort di P. Bidadari adalah tersedianya air panas untuk mandi, restoran, mini bar dengan pilihan berbagai macam wine dan minuman lainnya, teras pribadi untuk setiap kamar.
Selain itu berbagai layanan juga tersedia di pulau ini layaknya seperti hotel yang ada di wilayah perkotaan; seperti penyediaan layanan dokter yang siap panggil, laundry dan setrika, security guard, pemesanan mobil saat di Labuan Bajo, dan lain-lain. Karena letaknya yang dekat dari Labuan Bajo tentu jarak tidak terlalu menjadi masalah dalam memaksimalkan pelayanan untuk para tamu.
P. Bidadari memang dikenal sebagai salah satu tempat di sekitar Bajo yang memiliki spot diving terbaik dan diakui oleh internasional. Tak heran bila banyak divers internasional yang singgah ke pulau ini untuk menikmati paket diving berhari-harinya. Di sini tersedia paket untuk diving course yang pemula maupun yang sudah professional, dengan tarif 329-695 Euro minimal 4 hari – 10 hari untuk menjelajahi titik-titik diving terbaik di Laut Flores. Namun pulau ini juga tidak menutup diri dari wisatawan lokal yang juga memiliki ketertarikan pada olahraga diving sehingga rupiah juga tentunya berlaku.
Selain diving Anda juga bisa menikmati snorkeling dan juga scuba diving yang diawasi oleh instruktur berstandar internasional yang tersedia lengkap segala peralatan serta pelayanannya di snorkeling and diving centre di pulau ini. Akan tetapi sebagai pulau yang khusus disegmentasikan untuk para divers tentunya yang akan diutamakan untuk menginap adalah para divers yang ingin menjelajahi keindahan bawah laut di sekitar Taman Nasional Komodo.
Sampai saat ini diketahui sudah ribuan wisatawan yang singgah di pulau ini dan mayoritas adalah wisatawan luar negri yang ingin merasakan keindahan bawah laut Flores, tentunya reservasi untuk menginap di pulau ini pun berebut sebab jumlah kamar yang hanya 10 namun permintaan wisatawan tinggi dan juga wisatawan yang menginap di sini rata-rata minimal selama 4 hari. Sebaiknya Anda melakukan reservasi yang tidak mendadak jika ingin mengunjungi P. Bidadari dan juga perhatikan musim-musim yang ramai wisatawan di sini yaitu 1 Juli – 15 September dan 1 Desember – 15 Januari.
Pada saat tersebut biaya kamar dan segala pelayanan berbayar akan dinaikan sebesar 15-18 Euro. Pilihan tanggal saat low season yang berlangsung sekitar 15 Januari- 1 Maret dan 16 September-30 November lebih membuka peluang Anda untuk mudah mendapatkan kamar dan menikmati diving course di sini. Jadi siapkan diri Anda untuk menyelami keindahan Flores di Pulau Bidadari.

F.    PULAU KANAWA
Terletak sekitar 15 kilometer dari Labuan Bajo, Pulau Kanawa menyendiri dalam luasnya lautan di sekeliling Taman Nasional Komodo sehingga luas pulaunya yang 32 hektar seperti tak begitu berarti. Akan tetapi, tetap saja bukit batu yang ditumbuhi belukar dan rumput kering di musim kemarau ini bagaikan dialek Italia yang menggoda. Birunya laut yang dibatasi warna hijau kebiruan di bibir pantainya menyeret rasa penasaran seolah gravitasi bumi. Pulau Kanawa awalnya dibina oleh seorang warga Labuan Bajo, pulau ini diserahkan pengelolaannya pada orang Italia yang mengembangkan 14 bungalow di kaki bukit batu yang menerawang ke arah pantai. Sebuah dermaga kayu cukup untuk melabuhkan beberapa perahu kecil menjulurkan sambutannya hingga tepi karang dan tebing bawah laut. Biru bercampur hijau tepat mengulas kaki gazebo di ujung dermaga. Tak salah lagi, terumbu karang seluas areal yang melingkari pulau itu tumbuh subur, berbinar mengundang mereka yang mendekat.
Setelah menyinggahi Pulau Rinca dan Komodo yang membuka cakrawala pengetahuan fauna Indonesia, setengah lingkaran jam tak perlu dihabiskan terlalu cepat hingga terbenam Matahari di Labuan Bajo. Pulau Kanawa dengan kemewahan langit, pantai, dan terumbu karangnya adalah perhiasan sebelum pergi pulang. Bersoleklah dengan pengalaman satu lagi di jernihnya air dan warna-warni ikan yang bermain di antara bunga laut, terumbu karang, dan bukit pasir di bawah laut. Di Pulau Kanawa saat menjelang sore, air lautnya surut dimana Anda dapat mengambil bintang laut dan kepiting kecil yang ada di pesisir pantai. Kejadian ini adalah hal rutin terjadi saat air laut surut.
Bila jatuh hati pada pandangan pertama saat menatap Kanawa, singgahlah untuk menanyakan kemungkinan  bermalam di salah satu bungalownya karena itu adalah ide yang paling baik. Dibangun di antara bibir pantai yang jernih dan bukit menjulang, bungalow tersebut dilengkapi tempat tidur nyaman, berkelambu putih dan tempat tidur ayunan yang diapit dua pohon rindang, siap mengakomodir keinginan Anda untuk berlabuh.
Kursi beanbag disusun seperti bioskop di pantai, lengkap dengan peneduh alami menghadap langit menguning saat sunset. Beach café bernama Starfish dan satu lagi di bibir pantai bernama KB’s bar memutar lagu penuh semangat, mengingatkan setiap pengunjung untuk tetap ceria. Perahu dari Labuan Bajo selalu datang pada jam yang telah ditetapkan dan juga berangkat dari pulau ini pada jadwal yang dipatuhi. Pengunjung yang bermalam di sini tak perlu lagi membayar ongkos perahu yang melaut 45 menit dari Kanawa ke Labuan Bajo karena telah termasuk tarif bermalam.
Penyelamkah Anda? Bergegaslah untuk menemui manta ray, hiu paus, dan mola-mola di antara jadwal pertemuan lain dengan parrot fish yang memiliki bejolan besar di kepalanya. Kuda laut pigmi dan beraneka ragam nudibranch adalah hal lain yang mudah ditemukan di sini beserta penyelam lainnya yang selalu bertukar pengalaman sambil menyeruput minuman dingin di Starfish café.
G.  PULAU SEBAYUR
Pulau Sebayur yang memang sudah mengkategorikan resort di pulaunya sebagai Dive Club yang sudah berlisensi PADI. Satu-satunya resort yang terdapat di Pulau Sebayur ini bernama Komodo Resort Dive Clubs yang dibangun oleh orang Italia. Terletak dekat dengan Pulau Rinca yang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit menuju sana, sedangkan dari Labuan Bajo perjalanan dengan kapal membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.
Selain di Pulau Bidadari, Pulau Sebayur juga menawarkan pelayanan maksimal serta fasilitas yang lengkap untuk para divers. Target pengunjung yang menginap di sini adalah siapa yang mengambil paket menyelam di Dive Clubs Sebayur ini. Jika dilihat dari panorama sekitar pulau, memang masih kalah dibandingkan dengan panorama yang dimiliki resort-resort di pulau lain karena keadaan pulau terbilang cukup gersang dan kurang asri pemandangan bukitnya. Akan tetapi sebenarnya memang bukan panorama atas pulau yang diutamakan, sebagai pusat singgah para penyelam lokasi Sebayur sendiri terletak sangat dekat dengan beberapa titik diving yang terkenal indah di sekitar Laut Flores. Letak di mana ada Batu Bolong, Castle Rock, Crystal Rocks, dan lain-lain jaraknya hanya beberapa menit dari pulau yang membuat waktu perjalanan menuju spot dive lebih cepat sehingga waktu diving akan jauh lebih efektif dan tidak terbuang karena lamanya perjalanan.
Arsitektur yang tersaji untuk penginapan di Komodo Resort merupakan percampuran modern barat dan tradisional NTT dilihat dari desain exterior kamar yang berbentuk cottage ala rumah tradisional NTT namun dikemas secara modern. Interior kamarnya pun sangat modern mirip seperti hotel-hotel di kota yang berbintang. Jumlah kamarnya pun kurang lebih 10 dengan ada rencana penambahan sebanyak 4 buah lagi karena meningkatnya permintaan konsumen.
Walaupun gersang, pulau ini juga tetap terlihat sangat alami dari kejernihan air lautnya yang benar-benar seperti transparan karena mudah sekali melihat hewan berlalu-lalang didampingi dengan pasir pantainya yang putih dan halus. Untuk menginap di Komodo Resort ini, wisatawan harus mengambil paket sekaligus dengan divingnya. Bisa dikatakan, ambil paket diving bonus akomodasi selama minimal 3 malam.
Karena target marketnya yang merupaka para divers, jarang sekali memang wisatawan umum khususnya domestik yang singgah ke pulau ini. Apalagi memang sebagian besar divers yang datang merupakan warga asing yang jauh lebih memiliki ketertarikan akan olahraga ini dibanding dengan orang Indonesia sendiri yang masih baru tahu tentang olahraga diving ini. Untuk harga paket diving sekaligus resort dikenakan biaya 130-165 Euro per malamnya dengan ketentuan minimal menginap selama 3 malam.
Secara otomatis kita akan mendapatkan makan, akomodasilain (boat), full peralatan diving dan jatah 2x diving per harinya. Saat peak season Desember-Januari dan Juli-September harga akan dinaikkan sebesar 20 Euro/malamnya. Untuk mengikuti program divingnya saja di sini biasanya bertarif sekitar rata-rata 45-55 Euro/ hari nya untuk 2 spot tidak termasuk biaya sewa untuk peralatan yang biasanya tarif sewanya berkisar 3-8 Euro/ item atau bila menyewa full peralatannya biaya lebih murah yaitu sekitar 25 Euro.
Bila Anda merasa masih ragu untuk terjun sendiri menyelam disediakan juga jasa private guide selama menyelam yang bertarif 40 Euro. Belum lagi ada lagi permintaan untuk diving di spot-spot indah di sekitar Taman Nasional Komodo seperti Batu Bolong, dll yang tarifnya 2x lipat dari biaya diving di sekitaran P. Sebayur yaitu berkisar mulai dari 90-150 Euro (sudah termasuk full service transportasi, peralatan, konsumsi).
Melihat beragamnya tarif yang ditawarkan dengan berbagai macam pelayanan diving maka sebagian besar tamu yang datang ke Sebayur Island lebih memilih paket resort dan divingnya yang jatuhnya lebih murah dan juga lebih puas, sebab banyak di antara wisatawan yang tinggal di Sebayur lebih dari 2 minggu karena sudah jatuh cinta untuk mengeksplor bawah laut Taman Nasional Komodo.
Fasilitas serta pelayanan lain yang ada di Komodo Resort antara lain restoran makanan yang menyajikan masakan Indonesia atau Italia, rental peralatan snorkeling dan canoe, layanan antar jemput bagi para tamu dari dan menuju P. Sebayur – Labuan Bajo. Melihat kelengkapan layanan untuk para penyelam yang ingin mengeksplor keindahan bawah laut Taman Nasional Komodo, pastinya Pulau Sebayur menjadi pilihan utama bagi mereka untuk tinggal.
Datanglah ke Pulau Sebayur yang dekat dengan lokasi-lokasi selam terbaik seantero P. Komodo. Untuk informasi lebih lanjut serta reservasi klik www.komodoresort.com atau menghubungi kantor Labuan Bajo nya di +6238542095. Jangan lupa untuk reservasi dari jauh-jauh hari saat menjelang peak season agar tidak kehabisan kamar.

H.  CUNCA WULANG
Mungkin belum banyak yang populer juga dengan nama Hutan Mbeiling, khususnya di telingan wisatawan luar Flores. Hutan Mbeiling sendiri merupakan salah satu kawasan hijau berbentuk hutan yang terdekat dari Labuan Bajo dan dikategorikan sebagai hutan wisata karena di dalamnya menyimpan banyak potensi wisata. Salah satunya adalah keberadaan air terjun nan unik yang dinamakan Cunca Wulang, bila diartikan cunca adalah air terjun dan Wulang adalah Bulan, maksudnya air terjun ini jika dilihat dari atas seperti jatuh dari bulan. Sebenarnya di kawasan Hutan Mbeiling ini terdapat dua lagi air terjun yang tentunya memiliki keunikan masing-masing yaitu Cunca Rami dan juga Cunca Lolos.
Untuk menuju kawasan tempat di mana Cunca Wulang berada, kita harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 30 KM dari kawasan pelabuhan Labuan Bajo selama kurang lebih 1 jam dengan motor atau mobil. Jasa sewa motor dan mobil mudah ditemui di kawasan penginapan wisatawan yang ada di jalan sepanjang pelabuhan Labuan Bajo. Untuk mobil plus supir dan bensin harganya sekitar 500 ribu/ hari sedangkan motor sekitar 75 ribu/ hari. Medan menuju wilayah Hutan Mbeiling terbilang bagus yaitu aspal halus sehingga mudah dilewati, selain itu jalurnya juga tidak terpencil karena jalan yang dilewati adalah jalan provinsi yang merupakan jalan utama.
Cunca Wulang sendiri berada di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut sehingga udara di sekitar pasti lebih terasa sejuk. Sesampainya di gerbang menuju waterfall tepatnya di desa Wersawe, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki atau tracking menelusuri hutan dengan bantuan jasa guide dari penduduk lokal dengan tarif sebesar 50 ribu seharinya. Perjalanan dilanjutkan menuju Cunca Wulang sejauh kurang lebih 1-2 km yang ditempuh selama 1 jam dengan medan menelusuri semak-semak setinggi betis lalu disuguhkan dengan pemandangan sawah yang hijau, naik turun tanjakan dan akhirnya sampailah ke tepian Cunca Wulang.
Sekejap kawasan Cunca Wulang sama dengan Green Canyon yang ada di Jawa Barat, karakteristik aliran sungainya yang ada di antara tebing bebatuan besar. Mungkin kita bingung dimana air terjunnya, tenang sewaktu Anda sampai gemuruh suara air terjun akan memandu Anda di mana letak air terjun tersebut yang ada di atas batu-batu dan datang dari sela-sela batuan.
Melihat aliran yang menyerupai seperti sungai tentu kedalamannya juga tidak terlalu cetek, jadi cocok digunakan untuk berenang bukan hanya sekedar berendam. Airnya yang dingin dan jernih akan menyegarkan tubuh Anda yang lelah setelah tracking. Akan tetapi di beberapa titik ada bagian yang cukup dalam sehingga petunjuk dari guide sangatlah dibutuhkan untuk menentukan lokasi yang tepat untuk berenang. Bila ingin melihat debit air terjun yang deras dan bergelimpahan datanglah ke Cunca Wulang saat musim hujan, tapi aliran sungainya tidak seindah biasanya yang berwarna hijau sebab pengaruh dari air hujan yang cenderung keruh.
Bila datang saat musim kemarau, kemungkinan untuk melihat air terjun memang sedikit karena tidak banyak air yang jatuh, akan tetapi pemandangan yang disajikan pasti lebih indah di mana aliran sungainya berwarna hijau mungkin menyerupai yang ada di Green Canyon dengan kedalaman yang juga aman. Semua tergantung selera Anda lebih mempertimbangkan tampilan air terjun atau pemandangan.
Batu-batuan yang mengapit sungai aliran air terjun aman untuk dipanjat sebab tidak tajam sisinya, sehingga banyak sekali wisatawan yang merasakan sensasi untuk loncat dari atas batu hingga yang dari ketinggian 6 meter ke bawah sungai. Untuk masalah loncat terutama dari titik yang tinggi tentunya harus dikonsultasikan kepada guide sebab saat musim kemarau air cenderung sedikit yang mengakibatkan nantinya bahaya bagi wisatawan sebab akan membentur dasar sungai.
Selain melihat penampakan Cunca Wulang dari bawah (aliran sungainya) kita juga bisa melanjutkan untuk tracking ke atas air terjun yang indah sekali dilihat pola batuannya dari atas. Sekitar 30 menit Anda akan naik ke atas dan bersantai sambil menikmati udara sekaligus mengeringkan pakaian setelah berenang. Karena objek wisata ini belum resmi dimanfaatkan maka tidak akan ditemui penjual-penjual makanan dan minuman di sekitar lokasi sehingga sangat diharuskan untuk Anda membawa perbekalan sendiri terutama air minum sebab tracking cukup melelahkan.
Bila Anda beruntung saat tracking menuju Cunca Wulang yang melewati pemukiman warga, Anda bisa bercengkrama dengan mereka yang ramah dan bisa menyuguhkan minuman karena dianggap sebagai tamu. Peran local guide sangat penting keberadaannya jadi jangan kesampingkan tawaran penduduk sana yang menawarkan menjadi guide, apalagi harga yang mereka tawarkan juga tidak mahal.
Alam Indonesia memang selalu menawarkan kejutan dan keindahan yang tidak disangka manusia. Walau sudah kaya dengan keindahan lautnya Labuan Bajo ternyata masih menyimpan potensi wisata air terjun yang mempesona wisatawan dengan keunikannya. Masyarakat sekitar juga saat ini sudah mulai menyadari potensi yang dimiliki lingkungannya. Mereka sadar untuk turut serta berperan dalam menjaga dan mengenalkan tempat wisata yang ada sebagai bekal masa depan untuk mereka juga dalam menambah pendapatan. Jangan ragu untuk sekalian mengunjungi Cunca Wulang yang tidak jauh dari kawasan Anda menginap di Labuan Bajo. Dengan budget sedikit, pengalaman dan pemandangan indah yang tak tergantikan akan Anda dapatkan.




I.      CUNCA RAMI
Tak banyak yang menyadari bahwa ternyata Labuan Bajo juga menyimpan kekayaan alam khas pegunungan yang juga tak kalah indah dari kekayaan lautnya. Sebagai kota pelabuhan dan juga pusat singgahnya wisatawan yang terletak di antara laut dan juga perbukitan, tentunya tidak diperlukan perjalanan yang jauh untuk menuju tempat wisata alam khas dataran tinggi yang ada di sekitar Labuan Bajo.

Salah satu diantaranya adalah Cunca Rami yang menyimpan keindahan dan juga ternyata menjadi salah satu sumber amata air tawar bagi penduduk Labuan Bajo yang ada di sekitar pelabuhan. Cunca Rami yang berasal dari bahasa Flores memiliki arti air terjun di hutan. Air terjun ini terletak sekitar 20-30 km dari pelabuhan Labuan Bajo. Untuk menuju kawasan ini, diperlukan waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan motor ataupun mobil menuju Hutan Mbeiling di Kampung Roe, Labuan Bajo. Medan perjalanan dari Labuan Bajo ke Roe sendiri sudah bagus yaitu jalanan aspal halus sehingga tidak menyulitkan wisatawan.
Di kawasan sepanjang jalan penginapan dan pelabuhan Labuan Bajo terdapat banyak sekali gerai yang menawarkan penyewaan motor dan juga mobil. Untuk motor tarif per harinya adalah 75 ribu rupiah atau 15 ribu rupiah /jam serta untuk mobil tarifnya mulai dari 500 ribu rupiah/ hari untuk mobil dengan standart kijang berkapasitas 6-7 orang. Semuanya tergantung pertimbangan Anda dari masalah jumlah rombongan dan juga penghematan budget.
Hutan Mbeiling merupakan satu-satunya kawasan hijau perbukitan yang dekat dari Labuan Bajo. Hutan Mbeiling sendiri termasuk ke dalam hutan wisata (geo tourism) yang menjadi sumber penghijauan, air tawar serta fungsi lingkungan dengan ekosistem yang masih terjaga untuk daerah sekitar yang cenderung kering dan juga bertipe pelabuhan. Untuk menuju kawasan hutan yang di dalamnya terdapat air terjun Cunca Rami, kita harus menuju Kampung Roe yang merupakan pintu gerbang memasuki kawasan Hutan Mbeiling sampai ke puncak perbukitannya.
Jasa guide lokal setempat sangat dibutuhkan untuk menuju lokasi air terjun, karena itu biasanya pasti ada penduduk yang menawarkan untuk mengantar dengan harga yang bisa dinegosiasikan. Dari sana kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalanan kaki melewati berbagai medan dengan berbagai panorama menarik hingga akhirnya sampai ke lokasi air terjun.
Selama 1 jam jalan kaki pemandangan menyusuri hutan berganti-ganti yang tentunya indah untuk dinikmati pertama kita akan melewati hutan kemiri lalu berganti dengan jalanan sedikit mendaki dan menurun di bukit terakhir akan disajikan pematang sawah dengan aliran sungainya yang jernih. Tak heran bila Hutan Mbeiling dikategorikan sebagai hutan wisata yang unik karena keberagaman panorama penghijauan yang tersaji di sini. Jalur menuju Cunca Rami masih jarang dijamah sehingga memang terkadang kita harus melewati tumbuhan-tumbuhan kecil yang terpaksa diinjak karena belum terbentuk jalur.
Dari atas bukit kita bisa melihat penampakan air terjun dari atas sehingga kita harus melanjutkan perjalanan untuk sampai ke dasar jatuhnya air terjun tersebut. Sesampainya di bagian bawah air terjun, semua rasa lelah setelah menyusuri hutan hilang karena melihat kesegaran air terjun nan eksotik ini. Cunca Rami memiliki ketinggian kurang lebih 30-40 meter dan jatuh ke dasar yang merupakan danau kecil menyerupai seperti kolam sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat berendam bagi wisatawan yang haus kesegaran.
Air terjun ini jatuh melewati bebatuan beberapa tingkat dan memiliki beberapa jalur hingga akhirnya berujung ke dua jatuhan air utama yang saat turunan terakhirnya. Intensitas air yang jatuh di Cunca Rami ini cukup tinggi debit airnya sehingga terpaan air yang sampai ke tubuh bisa juga dimanfaatkan untuk memijat badan yang keletihan tadi.
Pemandangan sekitarnya yang hijau royo-royo serta kicauan burung di hutan membuat pikiran kita semakin rileks sambil berendam di tengah jatuhnya air yang lumayan deras. Sayang, di sini belum tersedia kamar ganti atau fasilitas penunjang sehingga setelah mandi kita harus siap berganti di pojokan sekitar air terjun. Untuk makanan di sini tidak ada penjual makanan dan minuman sehingga membawa perbekalan adalah hal yang wajib dilakukan oleh wisatawan.
Kesejukan udara khas hutan yang masih alami seringkali mengundang wisatawan untuk tetap singgah dan membuat betah dengan menginap di sekitar sini. Di sekitar wilayah Hutan Mbeiling terdapat satu desa adapt budaya yang sedang dikembangkan untuk dijadikan tujuan wisata, yang bernama Desa Liang Ndara. Berkat pendayagunaan masyarakat yang didampingi LSM Burung Indonesia, masyarakat desa ini kini mulai memperhatikan potensi wisata yang ada di sekitar mereka dan mengembangkannya sehingga di kawasan ini sudah tersedia 14 buah homestay yang didayagunakan warga untuk menampung wisatawan yang ingin menginap.
Bila Anda memiliki keinginan untuk menginap di sekitar wilayah Hutan Mbeiling setelah jatuh cinta dengan panorama dan cunca yang dimilikinya, tak ada salahnya untuk sekalian mengunjungi Desa Liang Ndara yang juga menghadirkan banyak atraksi budaya khas Flores. Reservasi bisa dilakukan dengan menghubungi ketua LSM Burung Indonesia yang bernama Ibu Maria di +6281338575056 , sekalian akan dibantu oleh pemandu yang berasal dari penduduk lokal yang akan merekomendasikan pula titik wisata lain di sekitar Hutan Mbeiling.
Setelah populer akan wisata lautnya, Labuan Bajo membuktikan bahwa masih banyak potensi wisata lain di tanah Flores yang sayang untuk dilewatkan. Bagi yang rindu dengan segarnya air tawar alami serta sejuknya udara dataran tinggi, Cobalah datang mengunjungi Cunca Rami selagi singgah di Labuan Bajo.



J.     NISA PURUNG
Pesona setiap pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Labuan Bajo, Flores pasti membuat wisatawan tertarik untuk mengunjunginya satu per satu. Hampir semua pulau yang ada di sekitar Labuan Bajo memilikikontur yang sama yaitu bukit dengan rumput-rumput savanna serta ilalang-ilalang. Bila musim kemarau bukit berwarna kuning kecokelatan sedangkan pada musim hujan berwarna hijau. Pemandangan tersebut seakan selaras dengan keindahan warna laut yang biru berdegradasi turquoise di tepi pulau, ditambah lagi dengan kejernihannya yang membuat isi laut terlihat dari atas permukaan.
Kekayaan yang dimiliki Flores ini belum semuanya terpublikasi ke telinga wisatawan selain tentang P. Komodo, P. Rinca dan pulau-pulau populer lainnya yang membangun private resort. Masih banyak sebenarnya potensi wisata yang dimiliki oleh puluhan pulau lainnya yang sebagian besar tak berpenghuni untuk digali keunikannya sehingga menjadi daerah wisata baru.
Salah satu diantaranya adalah satu pulau kecil yang terletak dekat dari P. Rinca yang tak memiliki nama jelas, namun sering disebut oleh warga Bajo dengan nama Nisa Purung. Nisa Purung adalah bahasa Flores yang artinya pulau yang terbakar. Tentu penasaran mengapa pulau ini dikatakan terbakar. Itulah yang menjadi daya tarik istimewa dari Nisa Purung yang belum banyak diketahui publik keberadaannya.
Terletak di perairan Selat Molo yang merupakan selat antara Pulau Flores dengan Pulau Rinca dengan jarak tempuh sekitar 1-1,5 jam dari Labuan Bajo, pulau tak berpenghuni memiliki keistimewaan di mana terdapat gugusan batu besar yang berwarna merah muda (pink) secara alamiah yang letaknya di atas bukit. Untuk menuju kawasan ini, kita harus menggunakan kapal motor nelayan kecil yang bisa menjangkau perairan dangkal sebab memang permukaan laut yang dekat dengan Nisa Purung cukup dangkal dan juga sering berarus kencang dan tidak ada dermaga.
Berbasah-basahan jalan menuju pantainya memang tidak dapat dihindarkan dan merupakan sensasi tersendiri ketika memasuki pulau yang jarang pula dijamah manusia ini. Anda bisa saja hanya melihat onggokan batuan besar ini dari tengah laut yang sangat kontras warnanya dari lingkungannya, akan tetapi sepertinya semua wisatawan yang datang ke sini pasti merasa tertantang untuk dapat mencapai puncak batuan itu dengan melakukan tracking menjelajahi pulau.
Sebelum tracking pastikan Anda memakai pakaian yang nyaman untuk suasana sedikit mendaki seperti persiapkan membawa sepatu atau celana panjang untuk lebih nyamannya lagi. Jadi pakaian Anda yang tadi basah bisa sambil dijemur selagi Anda sudah berganti pakaian untuk siap tracking.
Tenang saja walau memang jarang dijamah manusia namun di pulau ini belom ada cerita terdapat hewan liar yang buas. Tapi ada tantangan lain yang harus dihadapi wisatawan yang ingin tracking ke atas yaitu medan perjalanan yang menanjak. Tidak terlalu waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke atas yang penting Anda siap menghadapi medan yang masih ‘perawan’ ini, Faktor jarang dikunjungi inilah yang membuat jalur menuju Nisa Purung masih ditumbuhi semak belukar sehingga belum terbentuk jalur sempurna untuk menuju atas.
Kemiringan medan juga makin ke atas makin dibutuhkan fokus dan kehati-hatian yang ekstra. Selain itu, tipe tanaman yang tumbuh di pulau ini selain banyak terdapat ilalang, banyak juga tanaman berduri yang harus sangat diperhatikan keberadaannya agar Anda tidak terluka. Saat sudah mencapai pinggiran batuan tersebut rasanya ingin langsung merayap di atas dengan perasaan heran dan juga takjub tentang terbentuknya Nisa Purung ini. Karena warnanya yang pink, wisatawan asing lebih mengenalnya dengan nama Strawberyy Sundae. Alasannya adalah penampakannya seperti ek krim strawberry yang bertabur kacang.
Kacang yang dimaksud adalah goresan atau pola berwarna kuning yang ada di batuan. Selain untuk wisata, Nisa Purung rasanya juga pantas untuk dijadikan objek ilmu pengetahuan bila ada peneliti yang ingin lebih mengeksplor mengenai penyebab terjadinya batuan itu. Sayang saat ini sebagai orang awam kita juga tidak mendapat pengetahuan lebih jelas tentang asa usul “strawberry sundae” milik Flores tersebut, hanya bisa menikmati keindahan dan keajaiban ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Jangan lupa membawa air minum agar Anda tidak dehidrasi dan fisik tetap fit saat turun menuju kapal lagi.
Ada beberapa asumsi yang muncul tentang alas an mengapa Nisa Purung tidak sepopuler pulau lainnya yang bahkan jaraknya lebih jauh dari Labuan Bajo. Pertama penyebabnya mungkin karena letak “strawberry sundae” ini yang sedikit terpencil, tidak langsung di hadapan mata wisatawan saat berlayar di jalur perairan (diperlukan sedikit mengitari sekitar pulau untuk mendapatkan lokasinya).
Kedua ada juga yang beranggapan bahwa penduduk sekitar yang tahu keberadaan Nisa Purung sengaja tidak ingin mempopulerkan keberadaan batuan indah ini karena takut akan dieksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Walaupun begitu sebenarnya Nisa Purung layak sekali untuk dijadikan objek wisata baru sebagai variasi pariwisata di sekitar Labuan Bajo yang tidak melulu harus tentang snorkeling atau diving.
Asal semua elemen masyarakat baik dari penduduk lokal ataupun wisatawan yang tetap memiliki tanggung jawab serta hormat pada lingkungan sekitar tentu kekhawatiran tersebut tidak akan terjadi. Saat berkelana di sekitar Taman Nasional Komodo jangan lupa untuk meminta nahkoda kapal Anda menepi di Nisa Purung ini dan Nikmatilah bukti kebesaran Sang Pencipta yang penuh cinta.
K.  DANAU SANO NGGOANG
Selain dikenal memiliki Danau Kelimutu, wilayah NTT juga ternyata memiliki satu lagi danau vulkanik yang juga memukau wisatawan karena keistimewaannya. Danau itu dikenal dengan nama Danau Sano Nggoang yang merupakan danau terbesar di provinsi NTT. Danau ini terbilang jauh lebih dekat dari kawasan Labuan Bajo yang merupakan gerbang pariwisata di Flores, dengan menempuh jarak sekitar 63 km dengan perjalanan selama kurang lebih 3 jam kita akan sampai di Desa Nunang yang merupakan lokasi gerbang masuk ke kawasan hutan tempat danau ini berada.
Hutan yang dimaksud adalah Hutan Mbeiling yang membelah ke beberapa kawasan desa, termasuk di dalamnya terdapat juga Danau Sano Nggoang yang berada di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju kawasan ini biasanya wisatawan ditawarkan untuk menyewa mobil yang bisa dipilih jenisnya di sepanjang jalan di Labuan Bajo.
Medan perjalanan menuju Desa Nunang sedikit bervariasi, dari pusat kota Labuan Bajo jalanan ke arah wilayah kota dekat Desa Nunang adalah jalanan beraspal yang teramsuk dalam bagian jalan provinsi transflores, dari sana untuk memasuki kawasan desa jalanan yang dihadapi sedikit berbatu namun tidak terlalu menyulitkan.
Mendekati kawasan rumah penduduk di Desa Nunang pemandangan yang tersajikan mulai menghijau, yaitu rapihnya berjejer pohon-pohon kemiri yang tumbuh di kawasan Hutan Mbeiling. Setelah itu penampakan keindahan danau sedikit terintip dari jalan dan kawasan desa. Walau hanya terlihat sebagian, namun keindahannya juga sudah tampak dari warna danau yang hijau kebiruan serta terdapatnya pepohonan hijau di sekitar danau.
Di desa ini biasanya digunakan bagi wisatawan untuk menginap sebab di sini sudah terdapat banyak penginapan guest house yang dikelola penduduk sekitar. Jangan ditanya masalah keramahan penduduk sana, sebab saat ini melalui bantuan sebuah LSM masyarakat di Desa Nunang sedang dibina untuk menjadi masyarakat pariwisata yang menyokong majunya pariwisata di sekitar desanya.
LSM tersebut merupakan kelompok LSM Burung Indonesia yang menetap di wilayah desa ini untuk memajukan wisata di sekitar desa terutama Hutan Mbeiling dan Danau Sano Nggoangnya, menjaga lingkungan sekitar Hutan Mbeiling sekaligus menjamin keselamatan endemic burung khas Flores seperti gagak Flores, dll.
Berada di kawasan Danau Sano Nggoang memang tak cukup bila hanya datang lalu pulang, pasti wisatawan akan menginap di sini untuk menikmati sensasi pegunungan nan sejuk yang beda dari wilayah pantai Labuan Bajo. Untuk menuju lokasi adanya danau, dari penginapan kita bisa berjalan kaki karena memang jaraknya tidak terlalu jauh atau ada juga pilihan lain dengan menggunakan kuda yang disewakan di guest house oleh para penduduk.
Karena merupakan danau vulkanik, bau belerang tentunya menjadi hal yang sudah biasa tercium di sini. Bila Anda tidak kuat menciumnya bawalah sapu tangan dan juga air untuk sedikit mengurangi kenyengatannya. Ada belerang tentunya ada sumber air panas, ya di sini memang terdapat sumber air panas yang bisa dimanfaatkan sebagai pemandian dan masih alami belum ada campur tangan perusak dari manusia. Hanya ada beberapa bambu yang menjadi keran aliran air panas itu untuk mandi bagi wisatawan.
Pemandangan danau sendiri memang sangat indah, persis seperti danau-danau di Eropa, kawasan pegunungan Alpen, di mana danaunya berwarna hijau kebiruan dikelilingi hutan pohon-pohon nan hijau serta tepiannya ada bebatuan. Untuk wisata merefleksikan diri sambil mencari inspirasi rasanya danau ini adalah tempat yang paling cocok di tanah Flores ini.
Hal lain yang bisa dilakukan saat berada di sini tentunya mencoba tracking ke bukit savanna dekat desa yang menampilkan pemandangan danau dari atas bukit serta pemandangan rumah-rumah penduduk Desa Nunang yang nampak menyatu sebagai kesatuan elemen dengan danau dan hutannya.
Selain memang pesona dari danau yang menarik wisatawan untuk datang, keramahan serta jamuan yang diberikan masyarakat desa Nunang bisa diacungkan jempol. Saat ada wisatawan hampir setiap kali mereka akan melakukan ritual ucapan selamat datang, begitu pula saat wisatawan meninggalkan desa. Pada pagi hari Anda akan terbangun dengan berlatarkan suara kicauan burung yang hidup di hutan dekat desa, dan malam harinya dengan keadaan listrik seadanya rasanya melihat ribuan bintang bertaburan di langit atau star gazing harus Anda nikmati sambil bercengkrama dengan warga ditemani dengan sajian kopi Flores yang rasanya mantap.
Dalam beberapa tahun rasanya tidak mungkin bila wilayah Desa Nunang akan menjadi salah satu kampung wisata yang terkenal di Flores karena kapasitas warganya yang sudah terbina dalam meningkatkan pariwisata desanya, berkat jasa orang-orang dari LSM Burung Indonesia.
Bila Anda tertarik melakukan reservasi atau guide dari wilayah Labuan Bajo, Anda juga bisa menghubungi LSM Burung Indonesia yang menangani ekoturisme di wilayah Hutan Mbeiling, Flores di nomor telepon (0385) 41753 atau websitenya di www.floresecotourism.com yang juga mencantumkan nomor kontak pribadi pengurusnya serta gambaran wisata yang dikelolanya.
Temukan ketenangan dan inspirasi di pinggir danau seraya ditemani kicauan burung serta keramahan masyarakatnya yang membuat Anda betah dan merasa menjadi bagian dari masyarakat Nunang. Rasakan sensasi liburan dengan suasana berbeda nan indah dan tenang khas pegunungan di tanah Flores hanya di kawasan Danau Sano Nggoang.

L.   PINK BEACH
UNTUK melihat pantai indah berwarna pink,tak perlu sampai pergi jauh ke luar negeri, seperti ke Bahama, karena Indonesia juga punya pantai yang pasirnya berwarna pinkdan lokasi tersebut letaknya berada di kawasan Pulau Komodo, provinsi Nusa Tenggara Timur, oleh penduduk setempat dinamakan Pantai Merah. Namun para wisatawan mancanegara yang sering berkunjung ke pantai ini menyebutnya sebagai Pink Beach.
Di sepanjang daerah pantai ini tidak ada bangunan apa-apa dan tidak dihuni penduduk alias pantainya kosong, hal ini tentu saja sangat disukai oleh para wisatawan yang lebih menyukai pantai yang tenang dan indah.
Para wisatawan asing yang berkunjung ke sini sering  membayangkan dirinya sambil berfoto di pantai dengan latar belakang air laut yang bergradasi biru, ditambah panorama perbukitan hijau, langit biru cerah dengan gumpalan awan putih, dan ditemani hamparan pasir yang benar-benar berwarna pink, sangat indah dan bernuansa romantis.
Konon di dunia hanya terdapat 7 pantai yang memiliki hamparan pasir berwarna pink, salah satunya yang ada di Pulau Komodo.
Menurut asalnya, pasir pink ini terbentuk dari pecahan karang berwarna merah, namun kabar lain mengatakan sebenarnya warna pink ini dihasilkan karena adanya hewan mikroskopik semacam amuba bernama Foraminifera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada karang, tak heran apabila kita mengambil sejumput pasirnya, maka terlihat pasir berwarna merah di antara pasir putih.
Uniknya dari pantai ini, jika ombak menyapu pasir dan menariknya kembali, maka warna pasir tersebut berubah menjadi pink tua, sangat indah. Butiran pasirnya halus dan lembut, terasa empuk saat berjalan atau berjemur di atasnya.
Kegiatan di sana selain berfoto, bisa berjemur, berenang, atau sekedar duduk menikmati pemandangannya. Selain tidak terlalu ramai dan komersil, aktifitas berenang pun sangat menyenangkan dan menyegarkan mata, karena banyak hard corals dan soft corals yang berwarna-warni dan masih sehat, ditambah lagi banyaknya ikan-ikan hias, seperti clown fish (ikan Nemo),butterfly fish, bat fish dan masih banyak lagi.
Cara mencapai Pink Beach, cukup mudah, dari Bali kita terbang ke Labuan Bajo, lalu menyewaspeedboat atau kapal nelayan dari Labuan Bajo menuju Pulau Komodo. Sebelum sampai ke Pink Beach, biasanya para turis mampir dahulu Taman Nasional Komodo di Loh Liang untuk melihat langsung kehidupan komodo liar.
Bagi penggemar scuba diving, alam bawah laut di Pink Beach luar biasa bagus,  Anda dapat mengikuti dive trip melalui Dive Operator yang ada di Labuan Bajo.
Sebagai catatan, karena di pantai ini tidak ada warung atau restoran, Anda disarankan membawa perbekalan sendiri secukupnya.
M. PULAU KALONG
Pulau Kalong merupakan salah satu pulau kecil di Taman Nasional Komodo (TNK). Pulau ini terletak di antara pulau Rinca dan pulau Papagarang. Masyarakat menyebutnya pulau Kalong lantaran di pulau yang diintari oleh hutan bakau ini dihuni jutaan burung kalong. Pulau kalong dapat ditempuh sekitar 35 menit dengan speedboath darikota Labuan Bajo dan merupakan salah satu obyek wisata terkenal yang sangat diminati oleh wisatawan mancanegara.
Pulau yang memiliki luas tidak lebih dari 5 hektar itu, saban hari ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Mereka datang untuk melihat jutaan burung kalong yang bergelantungan di atas pepohonan bakau. Sebuah pemandangan yang sangat memukau. Para wisatawan mengaku senang berada di pulau itu terutama pada hari menjelang malam.
Biasanya, ketika menjelang matahari terbenam sekitar pkl. 18.00 sore, jutaan burung kalong akan keluar dari sarangnya dan terbang di atas langit biru. Secara berkelompok burung-burung kalong itu akan terbang meninggalkan “rumah” mereka hingga baru kembali pada keesokan harinya.
Para pengunjung dapat menyaksikan “kebiasaan” burung-burung itu pada setiap sore hari atau pada pagi hari ketika burung-burung itu kembali lagi ke “rumah” mereka. Pengunjung dapat menikmati kejadian unik nan pesona tersebut di atas kapal atau perahu motor. Pasalnya, di pulau ini tidak ada dermaga atau pelabuhan. Pengunjung hanya boleh berlabuh di tengah laut di sekitar pulau Kalong sambil menikmati indahnya panorama alam.
Menurut penuturan sejumlah guide, sampai kini belum diketahui secara pasti ke mana jutaan burung kalong itu akan pergi dan berlabuh untuk mencari makan. “Kita tidak tahu pasti ke mana jutaan burung kalong itu pergi dan mencari makan. Tetapi yang pasti, setiap sore hari tepatnya menjelang mata hari terbenam, burung-burung itu akan terbang keluar pergi kea rah timur dan baru akan kembali esok pagi,” ujar Ardianus, seorang guide yang mengaku sering menemani para turis melancong ke lokasi itu.
Ia mengaku, banyak wisatawan mancanegara sangat terkesan dan menikmati keunikan alam dan burung-burung itu. Biasanya, para wisatawan berangkat ke pulau itu pada siang hari. Di pulau itu terkadang para wisatawan melakukan snorkeling atau diving sambil menanti datangnya malam, saat burung-burung kalong itu hendak terbang keluar dari peristirahatan mereka. Setelah menyaksikan burung kalong, para wisatawan juga akan melanjutkan perjalanan ke Loh Buaya di pulau Rinca atau ke pulau Komodo untuk melihat binatang purba komodo.
Perairan di sekitar pulau Kalong sendiri terkenal tenang dan cukup cocok untuk kegiatan snorkling maupun diving lantaran alam bawah lautnya yang indah. Di lokasi ini, terumbu karang masih cukup terawat baik sehingga menjadi tempat tinggal berbagai jenis ikan. Aktivitas nelayan memang dikurangi karena merupakan bagian dari daerah konservasi.
Warga setempat meyakini pulau Kalong merupakan habitan asli burung Kalong sehingga harus dijaga kelestariannya. Tidak heran jika di pulau ini dilarang keras menebang kayu bakau atau menangkap ikan dengan cara-cara yang tak ramah lingkungan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hutan bakau dan burung kalong, membuat masyarakat setempat dan para pengunjung selalu menjaga dan melestarikannya dari dulu sampai sekarang.
N.   PANTAI PEDE
Pantai Pede di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dengan segala pesonanya diminati banyak pemodal. Tawaran investor tak sedikit yang datang untuk mengubahnya menjadi kawasan hunian mewah. Namun, pantai ini mampu bertahan melewati perjalanan panjang menjadi obyek wisata keluarga yang merakyat. Letaknya tak jauh dari pusat kota, yakni hanya 2 kilometer dari Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat.
Untuk menjangkau pantai ini, bagi Anda dari luar NTT, ada sejumlah alternatif, yakni melalui Kupang dengan pesawat ke Kabupaten Sikka atau Ende, kemudian melanjutkan perjalanan darat hingga Labuan Bajo. Alternatif lain, dari Denpasar, Bali, langsung menuju Labuan Bajo.
Pantai Pede mempunyai keunikan, selain panorama yang indah dengan pasir putihnya, kita juga bisa menikmati keindahan pemandangan saat matahari terbenam. Perairan pantai ini juga sangat tenang dan bening.
Tak heran pantai ini sangat digemari karena masyarakat sekitar dapat berenang sampai puas tanpa ada ombak besar. Meski air laut pasang naik atau musim barat, perairan di Pantai Pede relatif tenang sebab pantai ini dikelilingi sejumlah pulau, seperti Pulau Bajo dan Pulau Bidadari. Kawasan Pantai Pede juga menjadi tempat yang asyik untuk memancing.
Pantai Pede dengan luas daratan 3 hektar (ha) itu ramai dikunjungi kalangan keluarga pada akhir pekan, hari Minggu atau hari libur, sedangkan di luar itu relatif sepi. ”Saya sering ke sini, selain murah, pemandangan pantai ini juga indah,” kata Ferdi Labora, Selasa (8/11/2011). Ferdi siang itu berkunjung ke Pantai Pede bersama kekasihnya, Cahca Leoni Marsa.
Menurut tokoh masyarakat di kawasan Pantai Pede, Yusuf Ondeng (78), pantai ini seiring dengan perjalanan waktu telah mengalami banyak perubahan, di antaranya jenis pepohonan yang tumbuh. ”Dulu di Pantai Pede banyak tumbuh pohon kelapa yang lebat dan banyak sarang lebah sehingga saya sering mencari madu di situ. Namun, sekarang pohon kelapa sudah jarang, yang ada hanya pohon asam,” kata Yusuf.
Yusuf juga mengungkapkan, dari cerita turun-temurun, pada masa Kesultanan Bima, wilayah Pantai Pede dihuni oleh orang dari Bonerate, Sulawesi.
Wilayah Kesultanan Bima saat itu untuk Pulau Flores mencakup wilayah Manggarai, yang pusatnya di Reo, yang kini secara administratif masuk lingkup Kabupaten Manggarai. ”Sebagai bukti dulu orang Bonarate pernah menghuni Pantai Pede, di sekitar situ sampai sekarang masih ada makam tua milik orang Bonerate,” tutur Yusuf.
O.  PANTAI BINONGKO
Pantai Binongko yang terletak di Kelurahan Labuan Bajo Kecamatan Komodo, Manggarai Barat,  merupakan satu obyek wisata yang sangat menarik minat masyarakat dan wisatawan mancanegara. Maklum, di kawasan ini selain berpasir putih nan halus, juga air lautnya yang jernih sehingga sangat cocok untuk berenang atau snorkeling.
Lokasi Binongko hanya berjarak sekitar 3 Km dari pusatkotaLabuan Bajo. Untuk mencapai kawasan itu bisa ditempuh dengan kendaraan darat atau kapal laut dari Kampung Ujung atau melalui jalur darat dari Padang SMIP Desa Batu Cermin menuju pantai Binongko. Selain bisa menikmati indahnya pantai Binongko, anda juga bisa menyaksikan keindahan panorama alamkotaLabuan Bajo dan sekitarnya dari atas bukit Binongko.

Tercatat tidak banyak penduduk yang berdiam di kawasan itu. Di lokasi yang banyak dikunjungi masyarakat ini hanya terdapat satu panti asuhan untuk para penyandang cacat dan sebuah perusahaan ikan.